Pemerintah Pastikan Insentif Covid-19 Bagi Nakes Tahun Ini Tidak Dikurangi

user
agus 04 Februari 2021, 20:32 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menegaskan, pada tahun 2021 ini pemerintah masih memberikan insentif kepada tenaga kesehatan yang menangani pasien vobid-19. Besaran insentif tersebut diberikan sama besarnya dengan tahun 2020 lalu. Bahkan Kementerian Keuangan dan Kementerian Kesehatan masih melakukan konsolidasi dan meninjau kembali terkait insentif tenaga kesehatan yang menangani COVID-19.

"Jadi ini menunjukkan konsistensi dari pemerintah yang mendukung sepenuhnya untuk tenaga tenaga medis yang menjadi garda terdepan, menjadi andalan kita untuk menangani pasien dan pencegahan penyakit-penyakit dari covid -19. Kemudian juga harus kita pahami dengan berlakunya undang-undang APBN 2021 besar-besaran insentif bagi tenaga kesehatan dan santunan kematian tenaga kesehatan perlu ditetapkan kembali sesuai dengan mekanisme keuangan negara kita. Kami menyakinkan bahwa saat ini belum ada perubahan kebijakan pemerintah dengan demikian, pemberian insentif yang dilakukan di tahun 2000, sama dengan tahun 2021 ini,” kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani dalam jumpa pers penjelasan tentang insentif tenaga kesehatan secarab virtual di Jakarta, Kamis (4/2).

Dikatakan, pada tahun 2021 ini pemerintah bahkan menambah anggaran untuk sektor kesehatan. Pada tahun 2020 lalu anggaran untuk kesehatan sebesar Rp 169 triliun, sedangkan tahun 2021 menjadi Rp 254 triliun. Sementara sumber dana tambahan untuk kesehatan ini, diharapkan dari refokusing dan realokasi anggaran dari Kementerian dan Lembaga yang mendukung program covid-19.

“Pemerintah melakukan langkah refocusing dan relokasi dari belanja dari KL untuk bisa mendukung pendanaan untuk di bidang kesehatan ini. Jadi kami tegaskan dan kami tunjukkan dari anggaran kesehatan di tahun 2021 ini pada awalnya dialokasikan sebanyak Rp 169 triliun menjadi Rp 254 triliun tahun ini. Pasalnya pemerintah sudah mengantisipasi melihat perkembangan covid yang masih sangat dinamis ini diperlukan dukungan tambahan anggaran yang cukup besar untuk menangani bidang kesehatan ini paling tidak yang harus kita perhitungkan adalah proses daripada penanganan pasien, kemudian juga peralatan untuk mendukung penanganan itu kemudian juga insentif kepada tenaga kesehatan dan yang terbaru adalah pelaksanaan vaksinasi,” tegasnya.

Sementara itu Sekjen Kemenkes Oscar Primadi mengatakan, pemerintah menghargai jerih payah tenaga kesehatan yang menangani covid-19. Sehingga pemerintah tidak akan mengubah pemberian insentif kepada kepada tenaga medis tahun ini.

“ Insya Allah yang diberikan tahun ini sama dengan tahun lalu. Kami sangat menghargai jerih payah para tenaga medis yang berjuang dalam penanganan pasien cobid-19, jadi jangan takut yang teman teman nakes,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui surat Nomor S-65/MK.02/2021 yang ditandatangani secara elektronik pada 1 Februari 2021 kepada Menteri Kesehatan menyebutkan besaran insentif tenaga kesehatan terbaru.

Besaran insentif tersebut berkurang 50 persen yang disebutkan mulai berlaku Januari 2021 hingga Desember 2021 yakni dokter spesialis Rp 7,5 juta per orang per bulan (OB).

Kemudian, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sebesar Rp6.250.000 per OB, dokter umum dan gigi Rp 5 juta per OB, bidan dan perawat Rp3.750.000 per OB, tenaga kesehatan lainnya Rp2,5 juta per OB.

Sebelumnya, dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020 yang ditandatangani mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada 27 April 2020, insentif per OB bagi dokter spesialis Rp15 juta, dokter umum dan gigi Rp 10 juta. Kemudian, bidan dan perawat Rp 7,5 juta dan tenaga medis lainnya Rp 5 juta. Sedangkan, santunan kematian masih tetap sama yakni Rp 300 juta per orang. (Lmg)

Kredit

Bagikan