Keturunan HB II Minta Inggris Kembalikan Aset

user
ivan 23 Juli 2020, 06:26 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Keturunan Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono II (HB II) mendesak Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo untuk membantu pengembalian aset dan harta benda milik Sultan HB II yang dijarah tentara Inggris pada tahun 1812. Pada tahun itu terjadi penyerbuan ke Kraton Yogyakarta yang dilakukan bala tentara Inggris. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Perang Sepehi atau Geger Sepehi. Hal tersebut disampaikan Fajar Bagoes Poetranto, selaku Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II saat ditemuai wartawan di Jakarta, Rabu (22/07/2020).

”Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Kraton Yogyakarta di masa Raja HB II,” ujar Bagoes.

Ia menyebutkan, harta berharga yang dijarah menurut informasi yang diterimanya, adalah logam emas sebanyak 57.000 ton. Jadi surat bukti kepemilikan atau kolateral itu yang dirampas. ”Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Kraton atau para keturunan Sinuwun Sri Sultan HB II,” tegas Bagoes Poetranto.

Selain emas yang dijarah, Fajar menyebutkan pula, ada dokumen penting kerajaan lain yang diangkut. Begitu juga dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis Sri Sultan Hamengku Buwono II tentang sastra dan budaya kraton, benda pusaka, bahkan perhiasan yang dipakai Sri Sultan HB II pada saat itu juga ikut dirampas, tambah Bagoes Poetranto. Bagoes Poetranto juga menjelaskan manuskrip tersebut penting dikembalikan, karena bukti otentik kesejarahan Ngayogyakarta.

Bahkan, menurut Bagoes, pihak Yayasan Cahaya Nusantara (Yantra) telah siap mendukung dan membantu untuk merawat serta menerjemahkan manuskrip tersebut. Penerjemahan itu perlu dilakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Yogyakarta tentang sejarah masa lampau HB II. ”Kami melakukan ini sudah mendapat dukungan dari pihak Kraton Yogyakarta dan para keturunan Sri Sultan HB II. Bahkan yayasan Yantra juga siap membantu,” jelas Bagoes Poetranto.

Di samping itu, trah keturunan juga menginginkan penulisan sejarah mengenai perjuangan HB II dan Perang Sepehi. Hal itu perlu untuk menambah wawasan para generasi saat ini. Oleh karena itu, untuk menambah pemahaman soal perjuangan HB II dan dalam rangka pengusulan gelar Pahlawan Nasional, akan diselenggarakan pementasan wayang kulit dengan lakon Perang Sepehi.

Pentas wayang akan dibawakan Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro. Dihubungi terpisah, Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro menyebutkan, pergelaran wayang mengambil format babad bukan wayang purwa.

”Lakon yang dimainkan adalah Babad Diponegoro. Sumbernya dari Babad Diponegoro yang ditulis Pangeran Diponegoro saat berada di pembuangan,” katanya.

Alasan pilihan Geger Sepehi, menurut Ki Catur Benyek, karena memang dalam rangka Pengusulan HB II sebagai Pahlawan Nasional. ”Peristiwa pecahnya perang atau Geger Sepehi di era Hamengku Buwono II. Memang sosok Hamengku Buwono II ini keras. Dia tidak mau tunduk dengan aturan-aturan yang dibuat Belanda. Ketika Belanda kalah perang lalu Daendels ditarik dan kekuasaan dialihkan ke Inggris, yang datang ke Yogyakarta itu Raflles. Aturan-aturan yang dibuat pun sama dengan Belanda. HB II pun tetap menolak. Memang penekanan lakon ini, ya sosok kepahlawanan HB II,” papar Ki Catur.

Ia menyebutkan, sosok HB II benar-benar tidak ada kompromi lagi dengan penjajah. ”Itu terbukti Hamengku Buwono II pernah diturunkan paksa oleh Belanda dan digantikan putranya menjadi Hamengku Buwono III. Akhirnya ketika pecah Perang Sepehi itu, Kraton Ngayogyakarta itu bedah atau kalah,” jelasnya.

Kekalahan itu menurut cerita, karena kraton diserang dari belakang dan banyak prajurit yang mati dan kraton kalah. HB II juga dikenal sebagai penulis. Banyak naskah-naskah yang dirampas pasukan Inggris. Kemudian HB II dibuang ke Penang Malaysia.

Penolakan yang dilakukan HB II karena mempertahankan harkat dan martabat Kraton dan Raja Yogyakarta. HB II tidak mau tunduk dengan aturan penjajah yang jika duduk bisa sama tinggi dengan raja.

”Dalam sejarah sosok HB I dan HB II dikenal sangat keras tidak mau berkompromi dengan penjajah. Merekalah yang mempunyai power untuk tidak menyerah dengan aturan-aturan penjajah,” jelasnya, seraya menyebutkan, pementasan wayang ini sebagai sebuah gambaran keberanian dari HB II. (Ati)

Credits

Bagikan