Eijkman: Pogres Pengembangan Vaksin Merah Putih Baru 20 Persen

user
tomi 16 Juli 2020, 19:56 WIB
untitled

JAKARTA,KRJOGJA.com - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan progres pengembangan vaksin Merah Putih sudah sekitar 20-30 persen.

"Saat ini kalau dilihat persentasenya mungkin kita baru capai 20-30 persen. Tetapi 20-30 persen itu adalah pondasinya," kata Amin dalam konferensi pers pada acara Peresmian Pengoperasian Mesin Deteksi COVID-19 Cobas 6800 Fully Automated Molecular System yang ditayangkan secara virtual di Jakarta, Kamis.(16/7 2020). Lembaga Eijkman ditugasi memimpin konsorsium riset untuk membuat dan mengembangkan vaksin buatan Indonesia berdasarakan protein rekombinan. Lembaga Eijkman menargetkan bibit vaksin potensial didapat pada 2021.

Amin menuturkan bahwa pondasi dari pengembangan vaksin tersebut bersifat krusial dan mendasar sehingga jika sudah melewati tahap itu dengan baik maka ke depannya akan lebih mudah. "Pondasi itu adalah kami menyiapkan protein rekombinan yang nantinya disiapkan di hewan," tutur Amin.

Amin mengatakan Eijkman sudah mengidentifikasi dari virus yang bersirkulasi di Indonesia sehingga vaksin Merah Putih yang dikembangkan memenuhi persyaratan berdasarkan informasi virus yang ada di Indonesia.

Eijkman sudah melakukan amplifikasi bagian dari virus SARS-CoV-2 yakni protein S dan N yang ditargetkan. "Prosesnya cukup membutuhkan waktu," ujarnya. Saat ini, gen tersebut sudah diperbanyak dan saat ini sedang dimasukkan ke dalam sel mamalia. Dari situ akan didapatkan protein rekombinan.

"Kami akan dapatkan protein rekombinan yang nanti akan diuji lebih lanjut apakah dia bisa merangsang respon imun. Awalnya akan diuji pada hewan kecil kemudian hewan yang lebih besar dan jika hasilnya sudah bagus akan kita serahkan ke industri," ujarnya.

Di tahap akhir, Lembaga Eijkman akan menyerahkan hasil penelitian vaksin berupa bibit vaksin kepada industri.

Dalam kesempatan itu Menristek/BRIN meresmikan pengoperasian mesin deteksi Covid-19. Automated Molecular System oleh Lembaga Biologi MolekulerEijkman di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Mesin ini diklaim mampu melakukan uji sebanyak 1.000 spesimen dalam sehari, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas test Covid-19 di Indonesia.

Bambang juga mendorong Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk meningkatkan hasil pengurutan genom virus (whole genom sequencing) dalam rangka memahami karakterisasi virus corona penyebab COVID-19.

"WGS barang kali harus ditingkatkan karena sampai saat ini baru 16 WGS yang disampaikan ke GISAID secara jumlah kalah jauh dibanding negara lain termasuk India dan China, secara proporsional kita masih ketinggalan," kata Menristek/Kepala Badan Riset dan Nasional (BRIN) Bambang Brojonegoro.(Ati)

Hingga saat ini, 16 hasil whole genom sequencing (WGS) telah dikumpulkan ke bank data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), yang mengelola data virus corona penyebab COVID-19 dari seluruh dunia.

Dari 16 WGS itu, 10 WGS dihasilkan dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan enam WGS dari Universitas Airlangga.

Sementara, target WGS yang ingin dikumpulkan oleh Lembaga Eijkman adalah 100 WGS, sehingga masih ada pekerjaan rumah besar untuk mencapai target itu.

WGS tersebut dinilai penting untuk melihat karakterisasi dari virus yang bersirkulasi di Indonesia.(ati)

Kredit

Bagikan