Secara Ekonomi Pemerintah Belum Lakukan Locldown, Begini Hitungannya

user
tomi 30 Maret 2020, 14:45 WIB
untitled

SAAT ini Indonesia sebagai negara dengan tingkat kematian tertinggi. Meskipun demikian, Indonesia tidak juga mengambil tindakan lockdown. kenapa demikian?

Virus Corona (Covid-19) benar-benar telah menjadi pandemi yang telah mengacaukan kondisi dunia saat ini. Per hari ini (23/3), tercatat kasus infeksi Covid-19 di seluruh dunia mencapai 337.553 orang, dengan 14.654 diantaranya meninggal dunia. Lebih dari 150 negara terkena pandemi Covid-19, bahkan sejumlah negara telah mengumumkan lockdown dengan menutup semua akses keluar-masuk dan melarang warganya beraktivitas diluar rumah.

Malaysia menjadi negara terakhir yang memutuskan melakukan lockdown pada negaranya. Tindakan ini dilakukan selam dua pekan untuk menekan lonjakan kasus Covid-19 baru. Semua lini kehidupan di Malaysia ditutup dan dihentikan, kecuali toko yang menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari. Seluruh kegiatan belajar-mengajar dan perkantoran baik pemerintah maupun swasta juga ditutup, kecuali yang terlibat dalam pelayanan publik seperti telekomunikasi, transportasi, penyiaran, keuangan, keamanan, dan kesehatan, air, listrik, dan energi.

Alasan Indonesia Tidak Lockdown

Lockdown merupakan pilihan paling ekstrem yang harus ditempuh suatu negara dalam penanganan wabah Covid-19. Lockdown bukan sekedar menutup penyebaran saja, tetapi juga seluruh kehidupan, mulai dari pasokan bahan pokok makanan, bisnis, pendidikan, dan sebagainya. Ketika lockdown benar-benar diberlakukan, dapat dipastikan perekonomian Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri. Menurutnya, lockdown akan memberikan dampak ekonomi yang cukup besar kepada Indonesia karena akan disertai dengan penghentian aktivitas kebanyakan kerja. Terlebih kegiatan ekonomi di Jakarta menyumbang 25% terhadap PDB dan menjadi penentu 60% perekonomian nasional. Jika diasumsikan 30% pengurangan aktivitas pekerja nasional, maka akan dampak penurunan hampir 12% PDB.

Dalam paparannya, Yose menuturkan bahwan lockdown selama dua minggu dapat menurunkan angka PDB sebesar 0.5%, dan 1% jika berlangsung satu bulan. Angka 0.5% setara dengan Rp 75 triliun, hampir sama dengan APBD DKI 2020 yang berkisar Rp 88 triliun. Lockdown akan memberikan dampak yang besar tidak hanya bagi Jakarta, tetapi juga perekonomian nasional.

Selain itu permasalahan lain dapat saja muncul dan memperburuk situasi di tengah lockdown, misalnya kesiapan logistik dan pangan. Kesiapan suplai bahan pangan mutlak diperlukan sebelum tindakan lockdown dipilih. Saat ini pasokan pangan Indonesia belum cukup jika harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan ratusan juta masyarakat Indonesia yang tersebar di wilayah kepulauan dari Sabang hingga Merauke.

Jakarta selama ini menggantungkan pasokan bahan makanan dari luar daerah, jika diberlakukan lockdown dipastikan akan terjadi kelangkaan dan kenaikan harga. Tidak cukup sampai disitu, arus distribusi barang yang terganggu jelang Ramadhan akibat lockdown dapat menyebabkan Indonesia mengalami inflasi di atas 6% dan merugikan daya beli masyarakat Indonesia. Keresahan sosial berpotensi muncul.

Pariwsata Indonesia Merugi

Wbah Covid-19 belum berakhir, namun nilai kerugiannya di sektor pariwisata sudah mencapai Rp21 triliun.

Hariyadi B. Sukamdani selaku Ketua Umum Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan kerugian tersebut akibat anjloknya jumlah turis asal China. Tahun 2019 lalu, jumlah turis asal China yang datang ke Indonesia mencapai dua juta orang dengan total pengeluaran dalam sekali kunjungan US$ 1.100 (Rp 15.4 juta). Pariwisata di Manado, Bali, dan Batam menjadi yang paling terdampak akibat penurunan ini.

Gloria Guevara dari World Travel Council (WTTC) menyebut, pandemi Covid-19 telah membuat 50 juta pekerja di sektor pariwisata mengalami PHK. Ribuan penerbangan internasional dibatalkan dan beberapa perusahaan asuransi perjalanan menolak nasabah baru. Di awal tahun 2020 ini, sektor pariwisata diprediksi telah menyusur hingga 25%, dan akan terus bertambah jika tidak segera mereda.

Efek domino terjadi pada sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran, maskapai penerbangan, hingga pengusaha retail. Nilai okupansi hotek di Indonesia mengalami penurunan hingga 50% sejak awal tahun 2020. Hal ini tentu saja memberi imbas besar bagi kelangsungan bisnis perhotelan di Indonesia. Jika wabah tak kunjung mereda hingga April, diprediksi akan banyak perusahaan yang gulung tikar mengingat masuknya bulan Ramadhan dan lebaran

Upaya Pemerintah Saat Ini

Kebijakan lockdown di Indonesia harus dihindari, mengingat negara ini sangat rentan krisis ekonomi. Saat ini Presiden Joko Widodo memilih mengedepankan langkah menjaga jarak dan mengurangi kerumunan massa yang dapat menjadi pusat penyebaran Covid-19. Pemerintah juga harus mempersiapkan fasilitas kesehatan yang memadai untuk menanggulangi kasus-kasus berat. Strategi tracking juga harus dilakukan terhadap pasien positif Covid-19.

Kredit

Bagikan