Pemanfaatan Bambu Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim

user
tomi 09 November 2017, 11:38 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com -Pemanfaatan tanaman bambu di Indonesia bisa menjadi salah satu solusi dari pengendalian perubahan iklim. Tanaman bambu sangat efektif untuk merehabilitasi lahan terdegradasi, mampu menyerap dan menyimpan karbon, dan bisa diolah menjadi berbagai jenis produk berkualitas.

Pemanfaatan bambu juga bisa memberi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Demikian terungkap pada salah satu sesi diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke-23 di Bonn, Jerman, Selasa (7/11/2017), yang dipimpin oleh Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahjudi Wardojo.

Pendiri Yayasan Bambu Lestari, Arief Rabik menyatakan, tanaman bambu bisa ditanam di berbagai kondisi lahan. Ini menjadikannya unggul jika dimanfaatkan untuk merehabilitasi hutan dan lahan. “Bambu adalah tanaman juara untuk memperbaiki kondisi lahan,” tutur Arief.

Menurut Arief, satu rumpun tanaman bambu bisa menyimpan hingga 5.000 liter air, yang menjadikannya sangat baik sebagai tanaman pengatur tata air. Sementara 1 hektar tanaman bambu bisa menyerap 50 ton gas rumah kaca setara karbondioksida setiap tahunnya.

Produktivitas spesies bambu Indonesia juga lebih tinggi hingga 4 kali lipat jika dibandingkan dengan spesies  bambu dari Negara beriklim subtropis. “Produktivitas bambu juga sangat tinggi mencapai 50 ton per hektar per tahun,” tambahnya.

Budidaya bambu pun tidak sulit dan bisa dilakukan oleh masyarakat. Sayangnya, nilai keekonomian bambu saat ini masih rendah. Padahal, kebutuhan industri akan bambu terus berkembang. Berbagai jenis produk berkualitas bisa dihasilkan dari tanaman bambu mulai dari serat tekstil hingga panel untuk keperluan konstruksi. "Jarak nilai keekonomian di masyarakat dan industri ini yang perlu dipangkas,” lanjut Arief. (*)

Kredit

Bagikan