Warga Mamboro Tak Mau Larut dalam Duka

user
danar 14 November 2018, 00:31 WIB
untitled

PALU, KRJOGJA.com - Bencana memang menimbulkan duka yang mendalam. Meski begitu, para korban gempa di Jalan Teratai Mamboro Induk Palu, tidak mau terlalu lama larut dalam duka. Beberapa minggu ini mereka sudah berupaya bangkit lagi dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan keluarga.

"Warga di sini memang kami motivasi terus untuk tidak terlalu berharap datangnya bantuan. Mereka harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Karena kalau hanya berdiam diri terus sambil berharap datangnya bantuan," kata Haeruddin, tokoh masyarakat, kepada KR saat menyerahkan bantuan berupa beras, gula pasir, dan minyak goreng.

"Meski demikian kami tetap mengucapkan beribu terimakasih kepada para pembaca KR yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap para korban bencana di Palu ini. Bantuan yang diberikan ini sangat berarti bagi kami," tambahnya.

Gempa memang telah memporak-porandakan rumah-rumah di kampung ini. Mayoritas rumah warga rusak, meski tidak semuanya parah. Saat gempa terjadi, menurut Sugiman yang berasal dari Karanglo Sukoharjo Ngaglik Sleman, mwarga berhampuran keluar. Malamnya mereka tidak berani tidur di dalam rumah. Bahkan sampai beberapa minggu tidur di tenda pengungsian secara bersama-sama. Setelah itu bagi warga yang rumahnya masih aman untuk ditempati, secara berangsur kembali ke rumah masing-masing. Namun yang rumahnya rusak parah masih tetap tidur di tenda.

"Terutama bagi yang rumahnya aman untuk ditempati, kita motivasi untuk beraktifitas lagi seperti sebelumnya. Bagi yang biasanya berjualan gorengan atau nasi kuning, misalnya, kita minta untuk berjualan lagi. Usaha sedikit-sedikit tidak apa-apa, yang penting ada kegiatan positif dan membuahkan hasil. Ini akan menambah semangat hidup," kata Haeruddin yang sehari-hari menjadi guru PNS.

Ketika ditanya apakah SMA tempat mengajar sudah kembali normal, Haeruddin mengatakan, kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sudah berjalan lagi. Tetapi belum semua muridnya masuk seperti dulu. Hal ini karena kebanyakan muridnya memang menjadi korban gempa. Sedang yang di pinggir pantai masih ditambah dengan tsunami.

"Sekolah kami belum bisa mendata murid-murid yang menjadi korban, sehingga belum tahu mereka yang belum masuk itu karena sudah tidak ada atau karena masih trauma," tambahnya.

Mamboro memang termasuk wilayah yang parah. Untuk wilayah pantai, setelah diguncang gempa kemudian disapu tsunami. Kanan kiri jalan yang dulunya berupa rumah-rumah atau pertokoan, kini sudah bersih. Dulu dari jalan pantai tidak kelihatan, sekarang tampak jelas karena sudah tidak terhalang bangunan.

Beberapa puing kendaraan juga masih dibiarkan teronggok di beberapa tempat. Sedang sejumlah gudang di sepanjang jalan sudah hancur lebur. Atapnya yang berupa seng juga sudah tergulung-gulung. Selain itu ada juga masjid yang tinggal menaranya saja yang berdiri utuh. Hanya saja di bekas lantainya sekarang sudah diberi atap sehingga bisa dijadikan tempat ibadah darurat.

Kemudian ketika memasuki perkampungan, mayoritas rumah rusak, meski tingkatannya bervariasi. Tidak ada korban jiwa. "Kalau warfa kumpulnya di sini," kata Sugiman yang sehari-hari bekerja di Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU), tetapi pasca gempa pembangkit listrik yang berlokasi di pinggir pantai tersebut rusak, sehingga tidak bisa beroperasi.

"Jadi sekarang saya tidak ada kerjaan," kata pria yang aktif di Senkom Mitra Polri Sulteng dan ikut membantu distribusi bantuan pembaca KR.(Fie)

Kredit

Bagikan