Trauma Masih Hinggapi Warga

user
danar 01 November 2018, 18:01 WIB
untitled

DONGGALA, KRJOGJA.com - Zulfita langsung mendekap anaknya ketika truk yang membawa bantuan pembaca 'KR' tiba.  Tujuannya agar Adibah (anaknya yang baru berusia satu tahun)  tidak mendengar suara mesin truk tersebut.  Baru setelah mesin dimatikan, dekapannya dilepaskan.

"Anak saya ini setiap mendengar suara mobil yang keras menangis ketakutan. Masih trauma gempa beberapa waktu lalu, " kata Zulfita kepada 'KR' ', Rabu (31/10/2018).

Pada kesempatan ini Tim Dompet "KR" menbantu kebutuhan logistik di Dapur Umum Desa Toaya Vunta Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.  Dapur umum ini menyediakan kebutuhan makan 1.100 pengungsi. Bantuan yang diserahkan berupa beras,  gula,  mie dan air mineral. Pendistribusian bantuan dibantu relawan ACT.

Ditemui di dapur umum sambil membantu ibu-ibu lainnya menyiapkan makan siang para pengungsi, Zulfita menjelaskan,  saat terjadi gempa,  dirinya sekeluarga langsung lari untuk menyelamatkam diri dari bahaya tsunami.  "Kami lari sampai atas bukti itu, " katanya sambil menunjukkan sebuah bukit di samping desanya.

Hal senada disampaikan ibu-ibu lainnya yang sibuk memasak kare daging sapi atau 'napeni' beras yang akan dimasak.  "Ada yang lari sampai sepuluh kilometer " tukas Baitiyah dan Nurhana.

Menurut Muhammad Nuur, korban gempa yang juga Koordinator Kebersihan Desa Toaya Vunta Kecamatan Sindue, akibat gempa ada 4 warganya yang meninggal dunia. Sedang yang mengalami luka-luka mencapai puluhan. Sebagian sudah sembuh.  Kini warga desa ini tidur di tenda pengungsian, baik di tanah lapang maupun di dekat rumahnya.

"Orang-orang sini masih trauma.  Mereka belum berani tidur di dalam rumah," kata Muhammad Nuur sambil menambahkan, rumahnya mengalami rusak parah,  bahkan dapur dan tempat tidur roboh. "Untuk ke depan kami belum tahu bagaimana. Tapi kalau dari pemerintah sudah mendata," katanya. (Fie)

Kredit

Bagikan