Kemenko Polhukam : Pilkada Serentak Lancar dan Aman

user
tomi 30 Juni 2018, 05:05 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak telah berhasil digelar di 171 daerah dengan lancar dan aman. Nama-nama calon kepala daerah baru pun telah mengemuka, meski dinamika paska Pilkada serentak tetap terjadi di beberapa daerah.

"Ini sangat membanggakan. Pertama suksesnya Pilkada serentak 2018 ini merupakan kemenangan akan kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan, juga secara moral adalah buah dari keikhlasan semua pihak sebagai bangsa Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan," kata Staf Ahli Menko Polhukam DR. Sri Yunanto di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

 BACA JUGA :

Wapres: Pilkada 2018 Damai dan Demokratis 

Libur Nasional Pilkada Serentak, Layanan Publik Tetap Berjalan

Dengan keberhasilan Pilkada serentak ini, Sri Yunanto meminta bagi kelompok yang calonnya menang tidak usah jemawa karena Pilkada ini adalah awal dari pengabdian politik. Begitu juga yang kalah, harus ikhlas dan tidak usah berkecil hati karena kedepan mereka tidak berurusan dengan orang, tapi dengan kinerja pemimpin daerah masing-masing.

"Kalaupun ada masalah yang tidak wajar atau bahkan melanggar hukum, harus diselesaikan melalui jalur hukum. Jangan menggunakan fisik, apalagi kekerasan, karena itu akan merusak demokrasi dan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini sudah kita bangun,” imbuh Sri Yunanto.

Keberhasilan Pilkada serentak 2018 ini, lanjut pria yang juga pengamat politik islam ini, menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menjalani proses demokrasi yang sehat, kompetetif, dan nantinya akan memuaskan. Namun demikian, ini juga tidak menjamin pesta-pesta demokrasi berikutnya bebas dari masalah. Kampanye hitam, hoax, hate speech (ujaran kebencian), radikalisme dan terorisme, menjadi hal yang harus cegah di setiap proses demokrasi.

 Dia mengakui, pelaksanaan Pilkada maupun Pilpres sangat resisten dengan masalah sosial dan politik. Pertama persoalan terorisme, bahwa demokrasi menjadi pilihan rakyat Indonesia.

"Dengan segala plus dan minusnya, demokrasi menjadi sistem atau mekanisme dimana rakyat menyalurkan suara dan kepentingannya, mempercaya politisi untuk memperjuangkan kepentingannya. Tapi biasanya demokrasi itu ditentang kelompok radikal." (*)

Kredit

Bagikan