Impor Beras Jadi Pukulan bagi Petani

user
danar 20 Januari 2018, 07:50 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Prof Dedi Nursyamsi MAgr menyatakan, stok beras nasional aman. Hal itu berdasarkan data prediksi total luas panen di sembilan provinsi sentra produksi padi sepanjang Januari dan Februari 2018 yang masing-masing mencapai 576.509 hektare dan 798.588 ha.

Sembilan provinsi sentra produksi padi tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dengan luasan panen tersebut, menurut Dedi Nursyamsi, produksi beras pada Januari dan Februari 2018 masing-masing 2,0 juta ton dan 2,9 juta ton.

"Sembilan provinsi tersebut merupakan provinsi utama yang memasok beras-beras di kota besar Sumatera dan Jawa yang vital," kata Dedi di Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Menurut Dedi, angka tersebut belum termasuk stok Bulog 17 Januari 2018 sebesar 854.947 ton serta beras yang ada di jalur distribusi dan rumah tangga. Prediksi tersebut juga belum termasuk produksi beras di sembilan provinsi lainnya yaitu Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Dedi mengatakan, bila kebutuhan beras nasional sebesar 2,3 juta ton perbulan, maka ketersediaan beras bulan Januari (produksi beras dan stok Bulog) seharusnya dapat mencukupi kebutuhan beras nasional.

Demikian pula ketersediaan beras bulan Februari menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi daripada kebutuhan beras di bulan tersebut. "Data ini dikeluarkan untuk melengkapi data yang dilaporkan petugas kami secara harian. Ternyata laporan produksi beras cukup dari petugas di lapangan benar adanya," kata Dedi.

Angka yang dikeluarkan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian tersebut diperoleh dengan metode analisis terhadap data dari aplikasi Sistem Informasi Monitoring Pertanaman Padi (Simotandi) edisi 24 Desember 2017-8 Januari 2018 yang berbasis citra Landsat 8.

Dedi mencontohkan di Sumsel pada Januari dan Februari 2018 akan panen 184.121 ton dan 117.408 ton beras. Prediksi luas panen Januari dihitung berdasarkan pantauan luas panen (50%) dan luas fase generatif 2 (50%), sementara prediksi luas panen Februari berdasarkan pantauan fase generatif 2 (50%) dan fase generatif 1 (100%).

Produksi beras dihitung dengan asumsi produktivitas rata-rata GKG setiap provinsi yang diperoleh dari BPS 2017 dan rendemen beras 62%.

Di Magelang, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar menyesalkan kebijakan impor beras oleh pemerintah. Sebab di saat produksi padi dalam negeri memasuki masa panen, tetapi pemerintah justru melakukan impor beras. Hal ini benar-benar merupakan 'pukulan' bagi petani.

"Karena itu dari awal PKB meminta untuk menghentikan impor beras dan memanfaatkan produksi dalam negeri," kata Muhaimin Iskandar usai acara ikrar pemenangan Cagub-Wagub Jawa Tengah Pak Dirman-Mbak Ida di Magelang, Jumat (19/1/2018) malam.

Mengenai solusi untuk mengatasi masalah perberasan ini, Muhaimin menyatakan soal distribusi beras yang timpang dari berbagai provinsi yang perlu diperbaiki. Misalnya di Sulawesi Selatan yang benar-benar surplus dapat dibawa ke Jawa. Pihaknya pun sudah menyampaikan ke Komisi IV DPR RI mengenai penolakan impor beras ini.

"Alhamdulillah didengar, pertama tahapnya dengan memindah dari swasta ke Bulog," kata Muhaimin Iskandar. Bulog, lanjutnya, biasanya ada standardnya. Kalau produksi dalam negeri masih banyak, akan dikurangi.

Muhaimin menyatakan, tidak tahu persis alasan pemerintah melakukan impor beras. (Tha)

Kredit

Bagikan