Koperasi Nonghyup, Upaya Korea Selatan Proteksi Produk Lokal

user
ivan 17 Juli 2019, 19:29 WIB
untitled

KOREA SELATAN, KRJOGJA.com - Salah satu cara Korea Selatan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus memproteksi produk dalam negeri adalah dengan membangun koperasi yang terpadu. Sejak tahun 1960-an, pemerintah telah menyiapkan sebuah sistem yang mampu membangun perekonomian negara dari pedesaan Saat ini, sistem tersebut diberi nama National Agricultural Cooperative Federation (NCAF) atau biasa dikenal dengan Nonghyup.

Koperasi Nonghyup kini menganut sistem demokratis, dimana kepengurusan maupun kebijakan organisasi dan usahanya ditentukan dari bawah dan tidak dikontrol pemerintah. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan dukungan bagi para petani dalam bentuk keringanan pajak maupun asuransi.

Ketua Koperasi Nunghyop Kecamatan Cheonbuk, Kim Sam Yoong beserta jajarannya, perwakilan dewan serta dinas terkait menyambut kedatangan rombongan dari Gunung Kidul. Ia menjelaskan, di Kecamatan Cheonbuk, ada 291 petani yang menyetorkan barang di koperasi untuk dijual.

Perlu diketahui, Kota Gyeongju memang terkenal dengan hasil panen para petani yang berkualitas tinggi, seperti beras dan sayur-sayuran. Hasil setoran itu akan ditempatkan di sebuah pasar yang dikonsep layaknya supermarket dengan fasilitas memadai.

"Setiap bulan, kami membuka pasar murah tapi tetap layak dimakan dan menghargai kerja keras petani," jelasnya dalam pembukaan.

Selain memberikan tempat untuk berjualan, Koperasi Nunghyop turut memberikan bantuan kepada petani, salah satunya dengan membangun rumah kaca guna meningkatkan kualitas hasil panen.

"Kami hanya mengambil keuntungan sebesar 13 persen untuk produk pertanian. Sementara, untuk kebutuhan sehari-hari maupun hasil peternakan, kami mengambil 15 persen," papar Sam Yoong.

Ditanya mengenai tengkulak, Sam Yoong mengungkapkan, selama ini tidak ada yang namanya tengkulak. Usai petani memanen, mereka langsung memberikan kepada koperasi. Sehingga, harga setiap produk tetap stabil karena tak melalui perantara.

"Mereka sendiri sudah memiliki standar dan menentukan masa berlaku. Apabila sudah lewat satu hari dan sayuran atau buah belum terjual, mereka mengambil yang ada. Produk yang belum terjual itu kemudian diolah lagi sebagai makanan untuk panti asuhan, sehingga itu bukan makanan basi atau buah busuk," tutur Sam Yoong.

Selain hak privilege yang diberikan pada petani, ternyata pemerintah turut memberikan asuransi apabila terjadi kegagalan panen. "Sesuai dengan visi misi Nonghyup dan juga Gerakan Saemaul, yaitu ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tandasnya.

Selama lima dekade, Nonghyup kini tumbuh bukan sebagai satu unit usaha saja, melainkan usaha gabungan terpadu. Sehingga, dalam satu organisasi, ada sejumlah usaha lain, seperti koperasi produksi dan konsumsi, jual beli, simpan pinjam serta pelayanan jasa. (M-1)

Kredit

Bagikan