Menkes Tegur Perusahan tak Punya Ruangan ASI

user
tomi 08 Agustus 2019, 18:25 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menkes Nila Moeloek akan menegur kantor yang tidak punya ruangan untuk ibu menyusui.

"Sudah seharusnya perusahaan kini memberikan keringanan bagi ibu menyusui,"demikian Menkes Nila F Moeloek di Jakarta,Rabu (7/8 2019 ) dalam  acara Pekan ASI Sedunia 2019.


Wanita karir yang juga tetap menyusui dan konsisten berikan ASI eksklusif selama enam bulan itu luar biasa.

 Hal ini seolah kontradiksi terhadap aturan cuti hamil hanya maksimal tiga bulan.


"Satu sisi kami bangga perempuan maju, punya pendidikan bekerja namun ketika melahirkan menyusui cutinya cuma tiga bulan, ASI (ekslusifnya) enam bulan nggak cocok, bahkan dua tahun (masih menyusui), masa nuntut cuti dua tahun? perusahaan juga kan mau jalan," ujar Nila Moeloek .

Oleh sebab itu, kata Nila Moeloek, sudah seharusnya perusahaan juga memberikan keringanan bagi ibu menyusui seperti kelayakan tempat laktasi atau ruangan menyusui dan memerah ASI untuk nantinya disimpan.

"Kita ibu utamain kalau memerah susu kan ada beberapa botol yang mana diberikan kepada anak, ternyata yang terakhir diperah yang dikasih anak supaya yang lebih fresh yang diberikan pada bayi," tutur Nila Moeloek.

Menurut Nila Moeloek, perusahaan yang memiliki minimal karyawan 80 persen terdiri dari perempuan, maka sudah seharusnya memiliki ruang laktasi, juga memberikan waktu yang leluasa minimal satu jam untuk istirahat salat, makan, termasuk diantaranya memerah ASI.

"Jika orangnya banyak ruangannya kecil dan tidak memadai, saya pernah melihat di satu tempat seperti itu dan kami menegurnya, 'nggak bisa dong pak, ini harusnya bisa diberikan tempat lain buat mereka bisa memerah susu'," ungkapnya.

Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI juga hingga kini masih terus melakukan sejumlah langkah evaluasi dan dorongan beberapa ruang publik, termasuk perusahaan apakah sudah tersedia tidaknya ruang laktasi.

"Kalau tidak ada kita harus menegur, dan itu harus diberikan. Saya setuju, itu memang harus digemakan. Aurannya sudah ada, kalau tidak memperhatikan perempuan menyusui, 'yuk kita tutup nanti'," tutup Nila.(ati)

 


  



Kredit

Bagikan