Sri Mulyani Akui Berat Kejar Target Pajak

user
ivan 25 September 2019, 07:58 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui tantangan penerimaan pajak akan semakin berat di semester II. Kondisi tersebut terjadi seiring perlambatan ekonomi yang kian terasa.

Perlambatan tersebut membuat kekurangan penerimaan pajak (shortfall) hingga akhir tahun akan menjadi masalah yang tak bisa dihindari. Ia mengatakan perlambatan ekonomi tentu mempengaruhi proyeksi realisasi asumsi makroekonomi pemerintah.

Tadinya, di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen. Hanya saja, melihat kondisi yang terjadi, pemerintah kemudian memproyeksi pertumbuhan ekonomi di akhir tahun 5,08 persen.

Perlambatan ekonomi, lanjutnya, tentu akan tercermin ke pendapatan masyarakat dan dunia usaha. Pendapatan yang turun kemudian akan berimbas ke jumlah setoran pajak yang masuk ke kas negara.

"Kami membacanya, semester II ini kami harus hati-hati dalam menjaga kegiatan ekonomi sehingga bisa menstimulasi (penerimaan pajak)," jelas Sri Mulyani.

Ia menuturkan, sejatinya perlambatan ekonomi ini sudah berimbas terhadap penerimaan pajak hingga Agustus. Data Kementerian Keuangan mencatat, penerimaan pajak sudah mencapai Rp801,16 triliun atau hanya tumbuh 0,21 persen dibanding 2018.

Padahal, di periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan pajak bisa melesat 16,52 persen. Dampak perlambatan ekonomi, imbuh dia, bisa dilihat di dalam kontribusi pajak secara sektoral.

Pertumbuhan pajak dari kegiatan industri pengolahan turun 4,8 persen dibanding tahun lalu, sementara pertumbuhan pajak dari kegiatan perdagangan hanya tumbuh 1,5 persen. Yang lebih menyedihkan, pertumbuhan pajak dari sektor pertambangan ternyata melorot 16,3 persen dibanding tahun sebelumnya. (*)

Kredit

Bagikan