DPR Akui Pariwisata RI Makin Moncer

user
tomi 17 Juni 2016, 16:07 WIB
untitled

JAKARTA (KRjogja.com) - Sektor pariwisata menggelinding cepat dan makin moncer (bersinar-red). Industri service yang berbasis pada tourism terus berbiak dan makin terasa di semua level.

“Saya percaya tahun 2020 sektor pariwisata paling berpotensi menjadi primadona dan urutan tertinggi penyumbang devisa. Datanya ada dan konkret. Tiga tahun terakhir semua sektor usaha mengalami penurunan. Tetapi tidak bagi pariwisata, justru naik signifikan sehingga bakal menempati urutan tertinggi penyumbang devisa negara dan penghasil lapangan kerja," papar Ketua Komisi X Teuku Riefky Harsya, di Jakarta.

Dia berpegang pada data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam tiga tahun terakhir pariwisata Indonesia memang menunjukkan trend kenaikan di saat komoditas lain justru menurun. Minyak dan gas bumi misalnya. Angka USD 32,633.2 yang sempat diraih pada 2013, turun menjadi USD 18,906.7 di 2015. Sedangkan devisa yang disumbang pariwisata pada 2013 USD 10,054.1. Sementara pada 2015, angkanya mampu menembus US$ 11,629.9.

"Data UNWTO Tourism Highlights 2014, UNWTO World Tourism Barometer, Januari 2015 dan WTTC, Januari 2015, memperlihatkan grafik perjalanan wisatawan internasional yang terus naik. Dari 25 juta pada 1950, tumbuh menjadi 278 juta di 1980. Di 1995, angkanya bergerak naik hingga 528 Juta. Dan di 2014, angkanya sudah menembus 1,14 miliar," ungkapnya.

Riefkymengimbau kepada Kepala Daerah, terutama Gubernur, Bupati dan Walikota, dalam mengambil kebijakan politik anggaran daerah untuk lebih mempertimbangkan tentang pengembangan potensi pariwisata. "Kalau memang kebijakan politik anggaran di daerah bisa berpihak pada sektor pariwisata, peluangnya akan semakin besar. Sektor pariwisata akan menambah pendapatan asli daerah dan akan membuka lapangan kerja yang signifikan,” kata dia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menambahkan, saat rekaman di acara Pojok Istana TVRI Senayan, “Dulu, sumber ekonomi negara ini hanya dipilah menjadi dua, yakni Migas dan Non Migas. Kelak, pemilahannya berbeda tekanan, yakni menjadi Pariwisata dan Non Pariwisata,"sebut Arief Yahya. (*)

Kredit

Bagikan