Eko Sandjojo : Pendidikan Vokasi Kunci Kemajuan Bangsa

user
tomi 08 Februari 2019, 14:53 WIB
untitled

BENGKULU, KRJOGJA.com - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo di Bengkulu Jumat (8/2 2019) menjelaskan pendidikan Vokasi kunci kemajuan bangsa sehingga mengapresiasi Akademi Peradaban Desa di Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu.

Menurutnya, pendidikan vokasional merupakan hal penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. "Saya bangga dengan beliau pendiri Akademi Peradaban Desa Hermen Malik, beliau memiliki jiwa filantropis yang mempunyai tempat-tempat untuk pembangunan desa dan untuk pendidikan vokasional," ujarnya dihadapan puluhan siswa SMK yang sedang magang di lembaga Akademi Peradaban Desa.

Menteri Eko langsung memberikan semangat pada pelajar yang sedang magang di Akademi Peradaban Desa. "syarat sukses asal punya kemauan keras dan kalau punya cita-cita harus tekun." Katanya.

Dirinya akan membantu apa yang bisa dibantu dan bersinergi, seperti membantu pengadaan komputer, dan bantuan mesin jahit. Selain itu, akan membantu memberikan akses untuk sekolah ke tingkat lanjut.

"Sekarang ada program LPDP, bidik misi, kita bisa bantu dorong juga. Kuncinya kemauan dan jangan berhenti," katanya.

Menteri Eko juga menceritakan pengalamannya saat belajar di luar negeri yang selama empat tahun menyambi sebagai pengantar surat kabar atau koran. " Kalau saya bisa, kalian pun pasti bisa, asal mau kerjakeras," ujarnya menyemangati.

Sementara itu Dewan Pendiri Akademi Peradaban Desa Hermen Malik yang sekaligus teman Mendes PDTT saat kuliah di Universitas Kentucky, mengatakan bahwa lembaga akademi peradaban desa ini merupakan lembaga swadaya untuk memberikan pelatihan dan pengajaran bagi orang dewasa. Rencana ke depannya mau mendirikan PAUD hingga diploma tentang desa.

"Kalau di Bengkulu, angka pengangguran sekitar 3 persen. Kemiskinan 15 persen. Makanya kita bangun akademi yg bergerak dibidang teknologi perdesaan. Kita memiliki 122 jaringan belajar dan 13 yang sudah kita punya. Semua pegawai sukarelawan, tidak ada yang digaji," terangnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Akademi Peradaban Desa Medio Yulistiyo mengatakan bahwa lembaga yang berdiri pada 2018 ini terdiri dari 30 orang pengurus yang terdiri dari para aktivis, pakar, dan akademisi. Bergerak di bidang formal, salah satunya ingin menciptakan SMK berbasis tekno preneur, tujuannya mendorong siswa siswi SMK untuk mengolah sektor industri kecil/UMKM.

"Kita dampingi desa, kita juga sebagai konsultan BUMDes. Masyarakat harus siubah dari pendidikan dan cara pandang. Kita hadir dalam rangka untuk menutup ruang kosong di pemerintah dan tenaga pendamping. Kami lembaga sebagai mitra diskusi Kemendes PDTT, karena memiliki fokus utama terkait pengembangan dan pemberdayaan di desa," jelasnya. (Ati)

Kredit

Bagikan