Kemdikbud Beri Bantuan TIK

user
tomi 04 Oktober 2019, 17:13 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan, memberikan bantuan sarana pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dan melatih guru di daerah tertinggal, terpencil, dan terdepan (3T) dalam meningkatkan kompetensi TIK.

Sebanyak 124 guru di daerah 3T dari jenjang SD hingga SMA/SMK mengikuti Bimbingan Teknis Pemanfaatan TIK untuk Guru Sekolah Garis Depan (SDG) di Jakarta, Senin sampai dengan Rabu, 30 September hingga 2 Oktober 2019. 

Demikian disampaikan Sekjen  Kemdikbud Didik  Suhardi,Rabu (2/10 2019).

Peserta berasal dari Sumatera Barat, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, Papua Barat, dan Gorontalo.

selain mendapatkan bantuan, para peserta mendapatkan penjelasan teknis pengoperasian perangkat, serta bimbingan teknis dalam memfaatkan portal belajar yang dikembangkan oleh Kemendikbud, yaitu Rumah Belajar.Demikian Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi .

“Jadi kita sudah punya Rumah Belajar, digital platform yang dibuat oleh pemerintah dengan harapan agar sekolah, dalam hal ini, ya muridnya, gurunya, dan sekolahnya lebih mudah lagi untuk belajar. Kalau dulu murid hanya tergantung pada guru, nanti murid, disamping dari guru juga bisa belajar dari rumah belajar,” kata Didik Suhardi .

Namun yang perlu diantisipasi, jangan sampai guru-guru tergantikan oleh Rumah Belajar. “Jadi supaya tidak tergantikan, bagaimana guru-guru harus betul-betul berkreasi, berinovasi, sehingga Rumah Belajar tidak bisa menggantikan guru. TIK tidak bisa menggantikan guru, dan guru tetap diperlukan. Karena itu, guru harus bekerja keras menginspirasi bagaimana anak-anaknya, siswa-siswanya bisa terus belajar, bersemangat, terutama daerah-daerah 3T ini, sehingga kualitasnya tidak kalah dengan sekolah-sekolah di perkotaan,” paparnya.

Disebutkan, tidak jamannya sekolah di pedesaan itu, kalah kualitasnya dengan sekolah di perkotaaan, karena gak ada bedanya sekarang. “Dulu internet hanya di perkotaan, sekarang di pedesaan sudah ada,” terangnya.

Untuk itu, para guru  harus betul-betul melakukan perubahan luar biasa. “Dengan Program Mendikbud, yaitu digitalisasi sekolah, betul-betul semuanya bisa dihandel dari situ, kecuali inspirator tadi, karena inspirator hanya dipunyai oleh guru dan tenaga kependidikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pustekom Kemendikbud, Gogot Suharwoto menambahkan,  pada tahun 2019 ini, Pustekom Kemendikbud memiliki program memberikan sarana pembelajaran TIK dengan target 1.800 sekolah. Sebagian sekolah penerima bantuan TIK ini, sebelumnya telah menerima bantuan akses internet melalui Universal Service Obligation kerja sama dengan BAKTI Kemkominfo.

Rangkain kegiatan ini  dilaksanakan di 11 regional, yaitu Medan, Pagar Alam, Morotai, Waingapu, Kabupaten Buol, Anambas, Boalemo, Kepulauan Sangihe, Jakarta,  Jayapura dan Sorong.

“Kami masih menunggu terkait dengan tambahan akses internet dari BAKTI Kemkominfo, supaya kami bisa menambah sasaran  sekolah yang akan menerima bantuan, baik berupa bantuan akses internet maupun bantuan peralatan, dan pelatihan pemanfaatan Rumah Belajar,” ungkapnya.(ati)

Kredit

Bagikan