Banyak Warga di Jalur Gaza Butuh Bantuan Psikologis

user
danar 06 September 2022, 12:30 WIB
untitled

PALESTINA, KRJOGJA.com - Lembaga kesehatan PBB menyorot kondisi psikologis para warga di Jalur Gaza, Palestina. Bantuan psikologis sangat dibutuhkan warga setempat.

Diperkirakan lebih dari 87 ribu kasus butuh bantuan program kesehatan mental dan psikologis di Jalur Gaza.

Hal tersebut diungkap oleh Dr. Youseh Shahin dari UN Relief and Works Agency for Palestinian Refugees in the Near East (UNRWA).

"Kita sekarang bekerja pada proses survei kasus-kasus, dan jika ditemukan bahwa dukungan psikologis dibutuhkan, dokumen akan dibuka, ditindaklanjuti, dan pengobatan disediakan. Gejala-gejala umum termasuk Depresi dan epilepsi, dan ada beberapa kasus terkait penyakit fisik kronis yang berasal dari aspek psikologis," ujar Dr. Shahin, dilansir UN News, Senin (5/9/2022).

Sementara, Dr. Sami Owaida dari Gaza Mental Health Program menyebut tantangan psikologis yang dihadapi warga Jalur Gaza adalah karena pendudukan dan blokade Jalur Gaza yang telah berlangsung selama 15 tahun. Dampak ekonominya pun sangat terasa.

"Lebih dari 65 persen populasi Gaza hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih dari 60 persen pengangguran," ujar Dr. Sami Owaida.

Ada lebih dari 2 juta orang yang hidup di Jalur Gaza. Rumah sakit kesehatan mental hanya ada satu dengan kapasitas 50 kasur saja.

Ketua Program Kesehatan UNRWA, Dr. Ghada Al Jadba, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi berdampak negatif kepada psikologis warga di Jalur Gaza. Konflik Israel-Palestina pada 2021 menjadi sorotan yang ikut memicu masalah psikologis.

"Keadaan frustasi dan memburuknya kondisi psikologis sebagai hasil dari memburuknya kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan politik," ujarnya.

"Konflik pada Mei 2021 membawa syok psikologis, ditambah dengan terputusnya listrik dan air, tingkat kemiskinan yang tinggi, dan pengangguran. Semua faktor-faktor itu yang memperburuk situasi kesehatan dan psikologis yang sudah parah bagi waga Gaza," ucapnya.

Pada Agustus 2022, kondisi di Gaza juga memenas. PM interim Israel Yair Lapid Jumat (5/8/2022) mengatakan, negaranya memiliki “toleransi nol” terhadap serangan militan dari Gaza, tetapi menambahkan bahwa Israel tidak punya minat untuk masuk ke dalam "perang yang lebih luas".

“Israel tidak akan diam saja ketika ada pihak yang mencoba mencederai warga sipil kami,” demikian katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi dari Tel Aviv, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Minggu (7/8/2022).

Israel telah melakukan gelombang serangan udara ke Gaza hari Jumat, menewaskan paling sedikit 10 orang, termasuk tokoh militan senior, dan mencederai puluhan lainnya, demikian menurut pejabat Palestina.

Israel mengatakan pihaknya menyasarkan kelompok militan "Jihad Islamis" sebagai tanggapan atas “ancaman segera” menyusul penangkapan seorang tokoh militan senior lainnya di Tepi Barat sebelumnya minggu ini.

Militan Palestina meluncurkan serangkaian tembakan roket beberapa jam kemudian sementara sirene peringatan serangan udara dibunyikan di Israel tengah dan selatan. Situasi ini semakin mendekatkan kedua belah pihak ke perang terbuka.

Israel dan penguasa Hamas di Gaza telah berperang empat kali dan beberapa pertempuran kecil selama 15 tahun terakhir yang menyebabkan penderitaan besar untuk dua juta warga Palestina.

Kekerasan ini merupakan ujian dini bagi Lapid yang mengambil alih peran sebagai PM karteker menjelang pemilihan November mendatang di mana dia berharap bisa mempertahankan jabatannya.

Lapid berpengalaman dalam diplomasi, dan sebelumnya memegang jabatan sebagai Menlu dalam pemerintahan ini, tetapi pengalamannya dalam menangani isu keamanan masih sangat kurang.(*)

Credits

Bagikan