Perdana Ke LN Sejak Pandemi, Xi JinpingTemui Vladimir Putin

user
Tomi Sujatmiko 13 September 2022, 02:32 WIB
untitled

Krjogja.com - BEIJING - China mengkonfirmasi bahwa Xi Jinping berencana untuk melakukan perjalanan ke Asia Tengah pekan ini. Perjalanan ini merupakan yang pertama bagi presiden China ke luar negeri sejak pandemi COVID-19 melanda lebih dari dua tahun lalu.

Presiden China Xi Jinping kabarnya akan mengunjungi Kazakhstan dan Uzbekistan pada 14-16 September 2022.

Dikutip dari The Straits Times, Senin (12/9/2022), Xi Jinping akan menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, dan "melakukan kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan dan Uzbekistan", kata kantor berita Xinhua.

Pada hari Minggu, Kazakhstan dan Kremlin mengatakan bahwa Xi akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, tepat sebulan sebelum ia ditetapkan sebagai pemimpin China paling kuat sejak Mao Zedong.

Uzbekistan sebagai negara tuan rumah KTT Organisasi Kerjasama Shanghai, yang akan memberi Xi Jinping kesempatan untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya sejak Moskow memulai invasinya ke Ukraina pada bulan Februari lalu.

Ajudan kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, mengatakan kepada wartawan pekan lalu bahwa presiden Rusia diperkirakan akan bertemu Xi di KTT SCO. Akan tetapi, Kremlin menolak untuk memberikan rincian tentang pembicaraan mereka.

Pertemuan itu akan memberi Xi kesempatan untuk menegaskan pengaruhnya, sementara Putin dapat menunjukkan keberpihakan Rusia terhadap Asia; kedua pemimpin dapat menunjukkan oposisi mereka terhadap Amerika Serikat, saat Barat berusaha menghukum Rusia atas perang Ukraina.

"Xi dalam pandangan saya: dia ingin menunjukkan seberapa percaya diri dia di dalam negeri dan untuk dilihat sebagai pemimpin internasional dari negara-negara yang menentang hegemoni Barat," kata George Magnus, penulis "Red Flags", sebuah buku tentang tantangan Xi.

"Secara pribadi saya membayangkan bahwa Xi akan sangat cemas tentang bagaimana berjalannya perang yang diinisiasi oleh Putin, dan jika memang Putin atau Rusia bermain-main terkait hal ini, ini dikarenakan China masih membutuhkan kepemimpinan anti-Barat di Moskow.”

Rusia menderita kekalahan terburuknya dalam perang minggu lalu, dan meninggalkan benteng utamanya di timur laut Ukraina.

Hubungan kerja sama "tanpa batas" yang semakin dalam antara negara adidaya yang sedang naik daun, Tiongkok, dan raksasa sumber daya alam Rusia, adalah salah satu perkembangan geopolitik yang paling menarik dalam beberapa tahun terakhir - dan yang sedang diamati oleh Barat dengan cemas.

Setelah menjadi ‘pasangan senior’ dalam hirarki Komunis global, Rusia-setelah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991-sekarang dianggap sebagai rekan junior dari Tiongkok-komunis yang bangkit kembali-yang diperkirakan akan mengalahkan Amerika Serikat di dekade berikutnya sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Meskipun terdapat banyak kontradiksi historis dalam hubungan keduanya, kedua pemimpin berusia 69 tahun itu malah mempererat hubungan mereka.

Perdagangan melonjak hingga hampir sepertiga antara Rusia dan China dalam tujuh bulan pertama tahun 2022.

Kunjungan tersebut "menunjukkan bahwa Tiongkok bersedia untuk tidak hanya melanjutkan 'bisnis seperti biasa' dengan Rusia, tetapi bahkan menunjukkan dukungan eksplisit dan mempercepat penguatan hubungan antara Tiongko-Rusia," kata Alexander Korolev, dosen senior di bidang politik dan hubungan internasional di UNSW Sydney.

"Beijing enggan menjauhkan diri dari Moskow bahkan ketika menghadapi masalah reputasi yang serius dan munculnya risiko menjadi target sanksi ekonomi berikutnya." (*)

Credits

Bagikan