Transformasi Perpustakaan Membentuk Ekosistem Digital Nasional

user
Ivan Aditya 14 September 2022, 21:11 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Menyambut era metavers, Perpustakaan Nasional dalam beberapa tahun terakhir sudah bertransformasi, dan terjibaku melahirkan sejumlah aplikasi digital popular, seperti Indonesia One Search (IOS) hingga Ipusnas. Meski begitu Perpusnas merasa hal itu belum cukup untuk mewujudkan ekosistem digital nasional.

“Tahun ini tagline Perpustakaan Nasional adalah transformasi perpustakaan menuju ekosistem digital nasional. Target kami tiga juta konten kreator di link-an yang kami himpun dari semua konten-konten kreator yang ada dari semua subjek pengetahuan,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, dalam diskusi Inspirato Sharing Session bertajuk “Transformasi Perpustakaan Membentuk Ekosistem Digital Nasional” yang disiarkan Vidio.com, Rabu (14/09/2022).

Bertepatan hari ini, 14 September 2022, Indonesia memperingati Hari Kunjung Perpustakaan dan Hari Literasi Internasional pada 8 September lalu, kami sudah berhasil melahirkan 3 juta konten creator. “Kami akan launching Januari 2023,” kata Syarif.

Dikatakan pihaknya juga telah membahas konektivitas antara Perpusnas dengan teknologi penyimpanan data digital (block chain) sehingga bisa terhubung dengan perpustakaan-perpustakaan besar di dunia. Untuk mendukung hal itu, maka Perpusnas perlu melakukan perubahan paradigma perpustakaan. Dari yang hanya penyedia koleksi buku menjadi transfer knowledge. “Tugas yang paling mendesak saat ini adalah melakukan transfer knowledge,” kata Syarif.

Ukuran keberhasilan pemerintah pada semua level perpustakaan yang dibangun adalah ketika terjadi kemajuan peningkatan kualitas hidup masyarakat yang paling rendah. Maka yang harus dilakukan, kata Syarif, adalah mengubah cara bepikir, yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital. Manusia Indonesia kini dipaksa hidup dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat.

“Dengan luas wilayah yang dimiliki, termasuk potensi alam dan sumber daya masyarakat, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah teknologi untuk percepatan. Kita bisa menjadi pengendali teknologi. Teknologi tentu akan membawa kebaikan, terlepas dari segi bisnisnya. Dari segi bisnis ini menjadi peluang untuk menguasai kita,” katanya.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan memberikan apreasiasinya terhadap apa yang dilakukan Perpusnas dalam melakukan percepatan proses transformasi perpustakaan. “Sangat luar biasa yang dilakukan Perpustakaan Nasional. Sangat antisipatif meski anggaran minim,” katanya.

Meski anggaran terbatas, lanjut Putra, Perpusnas punya visi yang jauh ke depan yang perlu dikolaborasikan dengan banyak pihak, mulai dari pegiat literasi dan komunitas literasi, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya. Terkait penciptaan 3 juta konten kreator, pihaknya sangat mengapresiasi sebagai gerakan sosial membentuk komunitas digital.

“Ada keuntungan buat masyarakat digital, viewer pasti bertambah, lebih research full. Pembuat konten juga akan mencantumkan sumber dari Perpusnas, sehingga konten-kontrn yang dibuat sangat membantu dalam perkembangan pendidikan digital literasi di Indonesia,” katanya.

Komisi X DPR RI sangat mendukung transformasi perpustakaan dalam membentuk komunitas digital di Indonesia, dengan memberikan fungsi pengawasan. Di akhir diskusi, Syarif kembali mengingatkan seluruh anak bangsa, terutama generasi milenial untuk mengirimkan konten-konten ke Perpusnas. Konten yang bisa memandu masyarakat marjinal dan terdampak pandemik dalam menciptakan produk barang dan jasa di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kami tidak ingin terlalu muluk-muluk. Kita bisa bangun jejaring yang kontributif membangun anak bangsa,” katanya.

Sedangkan Putra Nababan mengatakan, yang harus dilakukan Perpusnas saat ini adalah mengajak seluruh warga untuk memproduksi konten, mengingat infrastruktur digitalnya sudah dipersiapkan. Ia juga mengingatkan pentingnya transformasi perpustakaan di era digital, yaitu pusat pengetahuan, wahana belajar, melahirkan inovasi, dan kreativitas masyarakat. “Perpustakaan juga harus menjadi pusat kegiatan masyarakat dan membawa kemajuan kebudayaan,” paparnya. (Lmg)

Kredit

Bagikan