Pekan Literasi Digital di Kota Palopo

user
Danar W 20 September 2022, 19:40 WIB
untitled

Krjogja.com - PALOPO - Literasi Digital merupakan sebuah proses persiapan sumber daya manusia untuk memanfaatkan teknologi baru dan diharapkan dapat menghasilkan masyarakat yang cerdas dan cakap menggunakan teknologi digital sehingga masyarakat bisa menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab. Oleh karena itu Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) bersama Pemerintah Kota Palopo berkolaborasi dalam kegiatan bertajuk “Pekan Literasi Digital di Kota Palopo”.

Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Pekan Literasi Digital ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai Literasi Digital kepada lebih dari 700 peserta perwakilan masyarakat dan komunitas di Kota Palopo.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3.49 dari 5,00.

Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan Pekan Literasi Digital dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Walikota Palopo Judas Amir yang menyampaikan bahwa kegiatan Pekan Literasi Digital ini sangat penting untuk mendorong peningkatan pengetahuan teknologi dan informasi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, Literasi Digital merupakan sebuah proses persiapan sumber daya manusia untuk memanfaatkan teknologi baru dan diharapkan dapat menghasilkan masyarakat yang cerdas dan cakap menggunakan teknologi digital sehingga masyarakat bisa menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab.

“Kita jangan hanya berhenti pada pemahaman dan penggunaan teknologi digital saja, tetapi harus memiliki integritas dan mengetahui etika digital. Jika hanya tahu bagaimana menggunakan teknologi digital tanpa mengetahui etikanya, maka itu bisa menjadi faktor yang menyebabkan kejahatan siber, penyebaran berita bohong dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, pemerintah harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dengan etika dan nilai-nilai kebenaran tanpa meninggalkan nilai-nilai kebudayaan,” ujar Judas.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IAIN Kota Palopo, Abdul Pirol, menegaskan bahwa dengan berkembangnya media digital, kita bisa mengalami banjir informasi jika tidak digunakan secara cerdas dan bijak. Media digital juga dapat menyebabkan kelelahan dan kehilangan semangat untuk melanjutkan aktivitas atau bekerja.

“Memang benar akses informasi menjadi mudah dan melimpah. Kita mau cari informasi apa saja, langsung bisa dicari. Tapi dengan kelimpahan informasi itulah, sulit membedakan mana info yang benar atau hoaks,” kata Abdul.

“Belum lagi jika menggunakan media digitalnya tidak tau waktu, kecanduan, kita tidak bisa membedakan mana yang harus kita kerjakan dan mana yang harus kita tinggalkan. Untuk itu, kita perlu memahami Literasi Digital ini dan bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Abdul.

Pada Pekan Literasi Digital di Kota Palopo, terdapat tiga kelas yang diselenggarakan secara paralel dengan narasumber yang kompeten di masing-masing kelas, yaitu Obral-Obrol Literasi Digital, Kelas Konten Kreator, dan Kelas Asah Digital.

“Validasi media sosial sekarang menjadi sesuatu yang kita inginkan. Ada like, comment, mention. Tapi dalam dunia digital, kita perlu memahami keamanan digital, kecakapan digital, etika digital dan budaya digital agar kita tidak hanya mampu mengoperasikan gawai secara baik dan bijak, tapi juga belajar memahami privasi orang lain,” ujar Mira Sahid, Wakil Ketua Umum Siberkreasi dalam pemaparan materi Mengenal 4 Pilar Literasi Digital di sesi Obral-Obrol Literasi Digital.

Itwan Wanci, Kreator Konten Palopo, mengenalkan komunitas Kola’ Dange yang memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk menyampaikan edukasi dan informasi dengan unsur komedi tanpa menghilangkan pesan moral dalam kontennya.

“Kreator konten saat ini memang menjadi profesi yang menjanjikan. Tapi kita tetap harus bisa menciptakan hal-hal positif untuk masyarakat dengan memanfaatkan platform media sosial dengan baik. Bukan hanya viral, hiburan, tapi harus mengandung pesan moral juga,” tambah Itwan.

Kelas selanjutnya, Asah Digital diisi oleh Soni Mongan, trainer Asah Digital, yang menyampaikan materi tentang pentingnya komunikasi di dunia digital. Di media sosial, kita tidak bisa melihat ekspresi lawan bicara dan mengetahui apa yang orang lain rasakan dari perilaku kita di dunia digital. Maka dari itu, penting untuk kita mengetahui bahwa perilaku online dan offline seseorang haruslah sama.

“Ada beberapa cara kita menumbuhkan rasa empati. Cobalah menempatkan dirimu di posisi orang lain dan perlakukan semua orang seperti kamu ingin diperlakukan,” jelas Soni.

Pekan Literasi Digital di Kota Palopo ditutup dengan materi dari Justin Sabrinsky, Kreator Nongkrong. Saat mengisi materi di sesi Kelas Konten Kreator, ia menyampaikan bahwa untuk memulai karir sebagai konten kreator hanya membutuhkan empat hal,

“Cara memulai jadi konten kreator? Tentukan passion-mu, tentukan kontenmu, tentukan platform-mu, dan manfaatkan apa yang kamu punya,” tegas Justin.

Untuk diketahui, Pekan Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) bersama Pemerintah Kota Palopo berkolaborasi dalam kegiatan bertajuk “Pekan Literasi Digital di Kota Palopo”. Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Pekan Literasi Digital ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai Literasi Digital kepada lebih dari 700 peserta perwakilan masyarakat dan komunitas di Kota Palopo.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3.49 dari 5,00.

Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan Pekan Literasi Digital dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Walikota Palopo Judas Amir yang menyampaikan bahwa kegiatan Pekan Literasi Digital ini sangat penting untuk mendorong peningkatan pengetahuan teknologi dan informasi masyarakat Indonesia.

“Kita jangan hanya berhenti pada pemahaman dan penggunaan teknologi digital saja, tetapi harus memiliki integritas dan mengetahui etika digital. Jika hanya tahu bagaimana menggunakan teknologi digital tanpa mengetahui etikanya, maka itu bisa menjadi faktor yang menyebabkan kejahatan siber, penyebaran berita bohong dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, pemerintah harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dengan etika dan nilai-nilai kebenaran tanpa meninggalkan nilai-nilai kebudayaan,” ujar Judas.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IAIN Kota Palopo, Abdul Pirol, menegaskan bahwa dengan berkembangnya media digital, kita bisa mengalami banjir informasi jika tidak digunakan secara cerdas dan bijak. Media digital juga dapat menyebabkan kelelahan dan kehilangan semangat untuk melanjutkan aktivitas atau bekerja.

“Memang benar akses informasi menjadi mudah dan melimpah. Kita mau cari informasi apa saja, langsung bisa dicari. Tapi dengan kelimpahan informasi itulah, sulit membedakan mana info yang benar atau hoaks,” kata Abdul.

“Belum lagi jika menggunakan media digitalnya tidak tau waktu, kecanduan, kita tidak bisa membedakan mana yang harus kita kerjakan dan mana yang harus kita tinggalkan. Untuk itu, kita perlu memahami Literasi Digital ini dan bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Abdul.

Pada Pekan Literasi Digital di Kota Palopo, terdapat tiga kelas yang diselenggarakan secara paralel dengan narasumber yang kompeten di masing-masing kelas, yaitu Obral-Obrol Literasi Digital, Kelas Konten Kreator, dan Kelas Asah Digital.

“Validasi media sosial sekarang menjadi sesuatu yang kita inginkan. Ada like, comment, mention. Tapi dalam dunia digital, kita perlu memahami keamanan digital, kecakapan digital, etika digital dan budaya digital agar kita tidak hanya mampu mengoperasikan gawai secara baik dan bijak, tapi juga belajar memahami privasi orang lain,” ujar Mira Sahid, Wakil Ketua Umum Siberkreasi dalam pemaparan materi Mengenal 4 Pilar Literasi Digital di sesi Obral-Obrol Literasi Digital.

Itwan Wanci, Kreator Konten Palopo, mengenalkan komunitas Kola’ Dange yang memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk menyampaikan edukasi dan informasi dengan unsur komedi tanpa menghilangkan pesan moral dalam kontennya.

“Kreator konten saat ini memang menjadi profesi yang menjanjikan. Tapi kita tetap harus bisa menciptakan hal-hal positif untuk masyarakat dengan memanfaatkan platform media sosial dengan baik. Bukan hanya viral, hiburan, tapi harus mengandung pesan moral juga,” tambah Itwan.

Kelas selanjutnya, Asah Digital diisi oleh Soni Mongan, trainer Asah Digital, yang menyampaikan materi tentang pentingnya komunikasi di dunia digital. Di media sosial, kita tidak bisa melihat ekspresi lawan bicara dan mengetahui apa yang orang lain rasakan dari perilaku kita di dunia digital. Maka dari itu, penting untuk kita mengetahui bahwa perilaku online dan offline seseorang haruslah sama.

“Ada beberapa cara kita menumbuhkan rasa empati. Cobalah menempatkan dirimu di posisi orang lain dan perlakukan semua orang seperti kamu ingin diperlakukan,” jelas Soni.

Pekan Literasi Digital di Kota Palopo ditutup dengan materi dari Justin Sabrinsky, Kreator Nongkrong. Saat mengisi materi di sesi Kelas Konten Kreator, ia menyampaikan bahwa untuk memulai karir sebagai konten kreator hanya membutuhkan empat hal,

“Cara memulai jadi konten kreator? Tentukan passion-mu, tentukan kontenmu, tentukan platform-mu, dan manfaatkan apa yang kamu punya.” tegas Justin.

Untuk diketahui, Pekan Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.(Ati)

Credits

Bagikan