Pertumbuhan Ekonomi Di bawah 5 Persen Tahun 2022

user
Ivan Aditya 29 September 2022, 15:36 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - UOB Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh menjadi 4,8 persen pada tahun 2022 dan 5 persen pada 2023 di tengah ketidakpastian ekonomi global yang tengah berlangsung.

"Di tengah berbagai tantangan serta ketidakpastian globai, kami mengapresiasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam menavigasi pemulihan ekonomi pasca pandemi. Perekonomian Indonesia terbukti resilien melalui sinergi kebijakan makro ekonomi pemerintah yang telah berhasil membawa negara kita pulih dengan cepat dan berkelanjutan. Seiring dengan peran kami sebagai katalis serta menghadirkan peluang, kami berharap dapat mendukung pemerintah, regulator, Investor, dan masyarakat dalam membangun masa depan bersama yang berkelanjutan," kata Presiden Direktur UOB Indonesia Hendra Gunawan dalam acara UOB Economic Outlook 2023, di Jakarta, Kamis (29/09/2022).

Dikatakan, Indonesia telah memperlihatkan kemajuan yang stabil menuju pemulihan ekonomi yang lebih tangguh setelah PDB berkontraksi sebesar 2 persen selama pandemi tahun 2020. Namun, Indonesia tengah menghadapi risiko-risiko seperti lesunya pertumbuhan global, volatilitas keuangan global, pengetatan kebijakan makroekonomi, serta memanasnya ketegangan geopolitik.
Akan tetapi, UOB Indonesia memprediksi bahwa perekonomian Indonesia akan tetap tangguh pada tahun 2023 didukung konsumsi domestik yang kuat dan kenaikan ekspor komoditas.

UOB Indonesia berpandangan bahwa proses integrasi pertumbuhan hijau ke dalam strategi pembangunan nasional akan menjadi kunci dari pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang Indonesia. Hal ini akan membantu meningkatkan belanja konsumen dan mendukung strategi hilirisasi industri nasional.

Sementara itu UOB Economist, Enrico Tanuwidjaja mengatakan, pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi mungkin sedikit di bawah 5 persen. Sementara itu, harga komoditas global yang lebih tinggi telah mendorong Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekspor yang luar biasa

Menurutnya, hal tersebut menjadi pertanda baik bagi neraca perdagangan Indonesia setelah mencatat rekor surplus perdagangan yang tinggi sebesar 35,3 miliar dolar AS di 2021. Tren tersebut diperkirakan terus berlanjut meskipun sedikit lebih lambat.
Enrico memperkirakan, inflasi akan melonjak signifikan pada semester II tahun 2022, di tengah penyesuaian harga bahan bakar pada 3 September lalu dengan tingkat inflasi rata-rata mencapai 8 persen pada periode September-Desember 2022.

Dilain sisi, Indonesia harus menerima fakta bahwa nilai tukar akan mencapai 15.300 hingga 15.400 tahun depan mengingat kenaikan suku bunga yang agresif oleh The Fed. Dolar AS kemungkinan akan terus menguat terhadap banyak mata uang lainnya termasuk rupiah.

Menyinggung tentang resesi ekonomi, Enrico mengatakan berdasarkan kondisi perekonomian tiga faktor yang bisa menyebabkan resesi ekonomi. Yakni adanya itu carry through, perlambatan Tiongkok, inflasi, dan respon kebijakan yang akan mendorong banyak ekonomi menuju resesi.

Enrico memastikan, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Italia akan mengalami resesi dalam waktu dekat, diikuti AS dalam 6 atau 9 bulan ke depan. Apalagi, diperkirakan The Fed akan terus menaikkan suku bunganya hingga mencapai titik terminal di 4,75 persen.

“Dan kita lihat, sementara The Fed menaikkan suku bunga itu mendorong perekonomian AS ke jurang resesi, dolarnya menguat, logis? Tidak logis, tapi kita hidup di dunia ketidakpastian dan ini akan terus meningkat sampai The Fed mencapai titik terminal,” paparnya.

Enrico juga mengatakan, perubahan iklim menjadi masalah paling yang tengah dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Pada saat yang bersamaan, secara global kita tengah dihadapkan pada tantangan terkait permintaan energi, kelangkaan pangan, serta masalah kesehatan global. Negara-negara maju dan berkembang juga terus bekerja sama dalam mengadopsi kebijakan rendah karbon dan ketahanan iklim. Indonesia harus terus mendukung keberlanjutan dan juga mengelola belanja dan investasinya untuk memastikan pemulihan yang tangguh.

Data Asia Development Bank menunjukkan bahwa permintaan energi di Asia akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2030. Saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) yang meliputi 67 persen dari bauran pembangkit energi nasional. Akan tetapi, tren tersebut kemungkinan akan melambat karena pemerintah Indonesia secara resmi telah melarang pengembangan PLTU baru dan memprioritaskan pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan.

Penyediaan energi hijau berperan sangat penting karena memiliki korelasi yang sangat positif dengan pertumbuhan. Kebijakan tersebut juga akan mengukuhkan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030 dan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060.

“Agar bangkit menjadi lebih kuat, kita perlu bersinergi mengatasi tantangan perubahan iklim dan krisis energi. Kami berharap melalui Presidensi Indonesia pada G20 tahun ini, negara-negara di seluruh dunia akan memanfaatkan kekuatan dan kepiawaian mereka dalam mendorong ekonomi hijau,” ungkap Enrico. (Lmg)

Kredit

Bagikan