Waspada! Krisis Ekonomi 1997 Kembali Hantui Asia

user
Danar W 06 Oktober 2022, 21:50 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Seperempat abad yang lalu, krisis keuangan besar melanda Asia dan mengguncang ekonominya. Kini, krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 kembali menghantui kawasan tersebut.

Mata uang dan pasar saham di ekonomi terbesar Asia telah jatuh ke posisi terendah dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi ini didorong oleh kenaikan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve dan perlambatan ekonomi di China.

Dikutip dari CNN Business, Kamis (6/10/2022) dalam sebuah laporan baru, sebuah badan PBB memperingatkan bahwa tindakan The Fed, bersama dengan bank sentral lainnya, berisiko mendorong ekonomi global ke dalam resesi.

China, negara ekonomi terbesar kedua di dunia telah melihat mata uangnya, yuan, jatuh ke rekor terendah hingga 11 persen terhadap dolar AS, menandai penurunan terburuk sejak 1994, menurut data dari Refinitiv.

Adapun Jepang, negara ekonomi terbesar ketiga di dunia, bernasib lebih buruk. Nilai Yen Jepang sudah merosot 26 hingga tahun ini dan menjadi penurunan terbesar di antara semua mata uang Asia.

Kemudian di kawasan Asia Selatan, rupee India juga merosot ke rekor terendah, yang telah melihat penurunan hingga 9 persen tahun ini.

"Pengetatan moneter cepat oleh The Fed mengirimkan dampak yang jauh dan luas," kata Frederic Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC.

"Bahkan Asia, meskipun memiliki fundamental makroekonomi yang kuat, kini menghadapi volatilitas pasar keuangan yang meningkat," tambahnya.

Ketika tekanan kuat pada mata uang utama Asia berlanjut, beberapa analis keuangan khawatir bahwa jika situasinya tidak terkendali, maka dapat menyebabkan krisis keuangan di kawasan itu.

"Lingkungan dolar yang kuat telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Asia akan terpengaruh dan apakah ini akan memicu krisis keuangan lain," tulis kepala ekonom Asia Morgan Stanley, Chetan Ahya dalam sebuah laporan penelitian.(*)

Kredit

Bagikan