Kemenkes Ungkap Pemicu Gagal Ginjal Akut

user
Tomi Sujatmiko 21 Oktober 2022, 08:28 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan langkah antisipasi untuk menekan laju kasus gagal ginjal akut di Indonesia ditempuh pemerintah usai temuan tiga zat kimia berbahaya pada pasien.

"Kemenkes sudah meneliti, bahwa pasien balita yang terkena gagal ginjal akut (accute kidney injury/AKI) terdeteksi memiliki tiga zat kimia berbahaya," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melalui Biro Kumunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes di Jakarta, Kamis (20/10/2022).

Budi menjelaskan ketiga zat kimia yang dimaksud di antaranya berupa ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE). Ketiga zat kimia itu merupakan impurities dari zat kimia tidak berbahaya selama dalam batas toleransi yang bernama polyethylene glycol. "Zat itu sering dipakai sebagai solubility enhancer di banyak obat-obatan jenis sirup,” katanya.

Zat berbahaya muncul manakala polyethylene glycol yang digunakan untuk mengencerkan obat sirup bereaksi secara kimia hingga menghasilkan ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE). Zat turunan itulah yang kemudian diketahui berbahaya.

Farmakope Indonesia, US Pharmacopeia, menginformasikan senyawa ethylene glycol dan diethylene glycol tidak digunakan dalam formulasi obat, tapi dimungkinkan keberadaannya dalam bentuk kontaminan pada bahan tambahan sediaan sirup dengan nilai toleransi 0,1 persen pada gliserin dan propilen glikol, serta 0,25 persen pada polyethylene glycol. Batas nilai toleransi tersebut dipastikan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi kesehatan konsumen.

Beberapa jenis obat sirup yang digunakan oleh pasien balita yang terkena gagal ginjal akut, kata Budi, diambil dari sampel darah pasien di rumah mereka masing-masing. Sampel itu terbukti memiliki EG, DEG, EGBE, yang seharusnya tidak ada atau sangat sedikit kadarnya di obat-obatan sirup tersebut.

"Sambil menunggu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memfinalisasi hasil penelitian kuantitatif mereka. Kemenkes mengambil posisi konservatif dengan sementara melarang penggunaan obat-obatan sirup," katanya.

Budi menambahkan, langkah konservatif itu dilakukan Kemenkes dalam upaya melindungi masyarakat dari risiko gagal ginjal akut yang belum diketahui sebabnya.

"Balita yang teridentifikasi gagal ginjal akut sudah mencapai 70an per bulan. Realitasnya pasti lebih banyak dari ini, dengan laju angka kematian mendekati 50 persen," katanya.

Langkah Kemenkes dalam menekan laju kasus gagal ginjal akut di antaranya dengan melarang masyarakat untuk sementara waktu tidak membeli obat bebas tanpa rekomendasi tenaga kesehatan sampai didapatkan hasil investigasi menyeluruh.

Kemenkes juga menginstruksikan tenaga kesehatan menghentikan sementara peresepan obat sirup yang diduga terkontaminasi ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) sesuai hasil investigasi
Kemenkes dan BPOM.

Bila memerlukan obat sirup khusus, misalnya obat anti epilepsi, atau lainnya, yang tidak dapat diganti sediaan lain, konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau konsultan anak. (Ati)

Kredit

Bagikan