Pesantren Tak Ajarkan Sikap Kebencian

user
Danar W 03 November 2022, 02:33 WIB
untitled

Krjogja.com - PADANG PANJANG - Islam menyeru tentang perdamaian, oleh karena itu, kalau ada yang tidak mau berdamai baik dengan orang lain maupun dirinya sendiri, berarti tidak memahami Islam secara benar.

"Nilai ketuhanan dan kemanusiaan akan memunculkan semangat saling sayang menyayangi dan menghilangkan sikap bermusuhan dan kebencain. Di Pondok-pondok pesantren yang diajarkan justru toleransi bukan saling membenci," kata Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Iklhas Padang Panjang Sumatera Barat H Riza Muhammad Lc, Rabu (2/11/2022).

Ia menyatakan hal itu ketika memberikan sambutan selamat datang kepada seratus orang guru agama di Padang Panjang dan Batipuh X Koto yang mengikuti kegiatan Training of Trainer (TOT) Moderasi Beragama yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat di auditorium STES Manna Wa Salwa komplek Pesantren Nurul Ikhlas.

Riza Muhammad menyerukan agar guru-guru agama di berbagai tingkatan sekolah memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana menciptakan kedamaian sikap dan kedamaian pikiran kepada anak didiknya. "Makin mendalam rasa cinta damai itu makin terwujud harmonisasi kehidupan dalam sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia ini," ujarnya.

Apa yang disampaikan pemimpin pesantren terkenal itu, diapresiasi langsung oleh Kasubdit Kerjasama Asia Pasifik Afrika BNPT, Kolonel Harianto SPd MPd. Ia menyatakan, seharusnya pesantren seperti itu. "Akan menjadi aneh dan kacau kalau pondok-pondok pesantren mengajarkan hal-hal yang membangkitkan rasa saling benci, perasaan merusak dan mengganggu ketenteraman. Pesantren itu ya, tempat para santri menimba ilmu agama untuk menjadi pribadi yang baik dan saleh, bukan sebaliknya," kata Harianto.

Ketua FKPT Sumbar Dr Adil Mubarak, ketika mengantar kegiatan tersebut mengatakan, sengaja kegiatan ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas ini agar dekat dengan nuansa pendidikan agama. "Kegiatan Moderasi Beragama ini berbentuk TOT, dimana para guru yang dilatih diharapkan bisa meneruskan apa dan bagaimana moderasi beragama itu kepada para anak didiknya," ucap Adil. (*)

Kredit

Bagikan