Sah, Baguette Prancis jadi Warisan Budaya TakBenda Unesco

user
Tomi Sujatmiko 02 Desember 2022, 11:42 WIB
untitled

Krjogja.com - PARIS - Franch Baguette, roti dengan bagian luarnya yang keras dan bagian tengahnya yang lembut, tetap menjadi bagian klasik dari kehidupan Prancis.

Lebih dari enam miliar buah roti dipanggang setiap tahun di Prancis, menurut Federasi Nasional Toko Roti Prancis, dan "status warisan budaya takbenda" badan PBB akan diberikan untuk menghormati tradisi tersebut.

"Ini merayakan seluruh budaya: ritual harian, elemen struktural dari makanan, identik dengan berbagi dan keramahtamahan," kata direktur jenderal UNESCO Audrey Azoulay, dikutip dari NST.com, Kamis (1/12/2022).

Berbicara dari Washington selama kunjungan ke Amerika Serikat, Macron memuji pengakuan UNESCO atas "pengetahuan" Prancis.

"Ini adalah sesuatu yang tak ada bandingannya," katanya.

Prancis telah kehilangan sekitar 400 toko roti artisanal per tahun sejak 1970, dari 55.000 (satu per 790 penduduk) menjadi 35.000 saat ini (satu per 2.000).

Penurunan ini disebabkan oleh penyebaran toko roti industri dan supermarket luar kota di daerah pedesaan, sementara penduduk kota semakin memilih menukar baguette ham mereka dengan burger.

Meskipun baguette tampaknya abadi dalam kehidupan Prancis, baguette baru secara resmi mendapatkan namanya kembali pada tahun 1920, ketika undang-undang baru menetapkan berat minimum (80 gram) dan panjang maksimum (40 sentimeter).

"Awalnya, baguette dianggap sebagai produk mewah. Kelas pekerja memakan roti biasa saja," kata Loic Bienassis, dari Institut Sejarah dan Budaya Pangan Eropa, yang membantu menyiapkan dokumen UNESCO.

"Kemudian konsumsi meluas, dan warga pedesaan bisa menikmati baguette pada 1960-an dan 70-an," katanya.

Sejarah Awalnya Agak Tidak Pasti

Ada yang bilang roti panjang ini sudah umum di abad ke-18.

Salah satu kisah populer adalah bahwa Napoleon memerintahkan roti itu dibuat dalam tongkat tipis yang bisa lebih mudah dibawa oleh tentara.

Tautan lain menyebut baguette ada kaitannya dengan pembangunan metro Paris pada akhir abad ke-19, dan gagasan bahwa baguette lebih mudah dirobek dan dibagikan, menghindari pertengkaran antara pekerja.

Prancis mengajukan permintaannya ke UNESCO pada awal 2021, dan baguette dipilih. (*)

Kredit

Bagikan