Satu Buku yang Sudah Ridigitalkan, Hasilkan Inovasi Pemikiran Baru

user
Ivan Aditya 28 Maret 2023, 09:30 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Buku merupakan produk intelektual. Seseorang tidak mungkin mampu menulis tanpa kebiasaan membaca. Launching buku "Belajar Dari Bone Bolango", merupakan sumbangsih kecil cara mengentaskan kemiskinan, khususnya di wilayah pedesaan.

Bupati Bone Bolango Hamim Pou mengatakan buku yang baru saja diluncurkan adalah hasil riset sewaktu menjalani pendidikan doktoral. Menurut Hamim, sudah banyak treatment yang dilakukan oleh pemerintah, namun hasilnya belum menunjukkan hasil yang signifikan.

"Kebijakan program kemiskinan belum berdasarkan karakteristik tipologi wilayah dan sumber daya alam," ungkap Bupati Hamim pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Gedung Layanan Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin, (27/03/2023).

Kabupaten Bone Bolango sebagian merupakan daerah pesisir, sehingga skenario kebijakan pengentasan kemiskinan bisa dilakukan antara lain dengan cara mendirikan infrastruktur pendukung produksi pangan, membangun jalan penghubung wilayah terisolir, stimulus ternak sapi, serta jaringan komunikasi.

"Kondisi kemiskinan seringkali dipicu oleh distribusi makanan karena letak wilayah yang agak jauh dari pusat pemerintahan," jelas Bupati.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Bupati Bone Bolango karena buku merupakan buah pikir yang terstruktur yang dimanifestasikan ke dalam bentuk tulisan.

"Satu peluru hanya menembus satu kepala namun sejatinya membunuh nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan satu buku yang sudah didigitalkan mampu menembus jutaan kepala sehingga menghasilkan inovasi atau pemikiran baru," imbuh Syarif Bando.

Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel yang turut hadir juga mengapresiasi tema yang diangkat Bupati Bone Bolango dalam bukunya. "Mengangkat kemiskinan dalam buku merupakan langkah berani karena dari situ kita mengakui persoalan yang mesti ditangani dalam pembangunan Gorontalo," ucap Rachmat Gobel.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki, mengatakan berdasarkan penelitian akhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) ternyata bansos malah dimanfaatkan sebagai jaminan hutang. Bukan digunakan untuk mengatasi kebutuhan mendesak.

Oleh karena itu, Maliki menyarankan agar jiwa kemandirian masyarakat segera dibangun. Jangan lagi dimanjakan dengan mengandalkan aneka bantuan.

"Jangan berlomba-lomba menjadi masyarakat miskin agar dapat bantuan. Bantuan lebih tepat justru mengarah kepada pemberdayaan masyarakat," ujar Maliki. (Lmg)

Kredit

Bagikan