Perkutut dan Batu Giok Naga ‘Datang’ Usai Dzikir

BAGI yang meyakini, istikamah melakukan dzikir, mujahadan. Manakib, wiridan dan ritual reliji bentuk lain yang tujuannya memuja-muji kebesaran dan keagungan Allah, biasanya akan mengalami hal-hal menakjubkan. Bagi yang punya usaha, perjalanan bisnisnya lancar, rumah tangga tenteram, serta fadilah-fadilah lain sesuai hajat yang ‘disuarakan ke langit’.

Kejadian yang sulit dinalar, atau karena kebtukan, dialami seorang jamaah Majelis Manakib Jawahirul Ma’ani “Sumeleh”, Selasa 29 September sekira Pukul 01.30. Sejak Maghrib, jamaah tersebut tetiba ingin wiridan dan dzikir sekuatnya. “Ternyata hanya bisa bertahan sampai pukul 01.30. Usai dzikir saya keluar ruangan, Tetiba ada seperti benda jatuh di dekat saya berdiri. Karena gelap, saya bergegas mengambil senter. Saya terangi dengan senter, ternyata seekor burung perkutut jawa warna hitam,” ungkap jamaah tersebut.

Dia menambahkan, sebenarnya ada jeda waktu antara perkutut jatuh dengan ketika mengambil senter. Anehnya, perkutut yang sehat tersebut hanya diam, tak mau pergi. Bahkan ketika ditangkap pun tak berusaha berontak.
Sebelumnya warga Kalasan itu tak pernah berhubungan dengan burung. Di rumah tak punya sangkar. “Ndilalah saat itu ada tetangga belum tidur, tahu saya dapat perkutut, menawarkan diri mengambilkan sangkar di rumahnya. Kebetulan ada sangkar burung nganggur. Jadi, semua serba kebetulan dan serba dimudahkan,” tuturnya.

Dari kombinasi warna bulu, kaki dan paruh, perkutut tersebut menurut Ki Juru Bangunjiwo, budayawan, perkutut tersebut katuranggannya Kresna. Ada yang menyebut katuranggan kul buntet. “Auranya keselamatan dan kerezekian,” komentarnya di akun facebook jamaah yang memosting perkutut temuan tersebut.

Kejadian yang juga sulit dicerna nalar, kembali dialami jamaah tersebut ketika di rumahnya ketempatan kegiatan mujahadah dan manakib Jawahirul Ma’ani, malam Jumat Legi (1/10). Sesaat setelah acara selesai, Gus Muklas Ansori, kiai yang memimpin manakib, berujar kepada shahibul bait: “Pak, ini ada ‘barang’ yang ingin diwujudkan dan menjadi hak panjenengan. Terserah panjenengan, akan diwujudkan atau tidak.”

“Kalau memang itu pemberian alam dan kita tidak memaksa, mangga, nderek Pak Kiai,” jawab shabibul bait.

Segera Gus Muklas bergegas keluar ruang. Diikuti jamaah. Dia melakukan konsentrasi beberapa saat. Lalu menghentakkan kaki ke tanah. Selanjutnya jongkok dan menghempaskan telapak tangan ke tanah. Sambil menahan napas. Terlihat seperti orang mengeluarkan tenaga besar, sehingga beberapa saat kemudian keluar keringat dan napas terdengar berat.

Ditariklah telapak tangan dan menggenggam sedikit tanah. Lalu shahibul bait diminta menerima tanah yang diambil tersebut dan langsung digenggam beberapa saat. Baru kemudian dibuka.

Setelah dibuka, ternyata dalam tanah segenggam tersebut ada sebutir batu akik berwarna biru seperti kulit telur bebek. Keesokan paginya, sang shahibul bait acara manakib Jawahirul Ma’ani Jamaah “Sumeleh’, membawa batu kecil tersebut ke tukang akik di Pasar Prambanan. Dicarikan emban untuk dipakai cincin sekalian dipoles agar bersih dan kilap. Setelah digosok, ternyata batu tersebut jenis giok dan muncul siluet gambar naga mirip Barongsai. “Alhamdulillah, dalam dua pekan, saya menerima pengalaman spiritual luar biasa,” ujarnya. (Dar)

BERITA REKOMENDASI