SAAT saya membeli jamu di warung langganan, ada seorang bule melintas sambil bertanya, What is his? Si penjual jamu menjawab, 'Jamu empon-empon and the corona modar, Tuan. Si bule kemudian membeli empon-empon dan langsung meminumnya. Kemudian ia berkata, Jamu emponempone manjur, nggih? (Titiek T, Jalan Melati Wetan 5/284 Perum Condongcatur)

Kiriman:
,

TEMAN saya yang sudah punya dua cucu punya kebiasaan agak aneh. Setiap hari ia mendatangi salah satu rumah sakit terkenal di Kota Pati. Bukan untuk berobat atau besuk orang sakit, tetapi hanya untuk melihat wajah perempuan petugas parkir sepeda motor di rumah sakit tersebut. Padahal si mbak petugas parkir itu tidak tahu kalau sedang dilihat teman saya. (Susanto Sagipah, Jalan Kolonel Sugiyono GBKT 8 Desa Winong Pati 59112)

Kiriman:
,

SUATU hari saya berkunjung ke rumah teman. Biasanya di depan rumah ditulisi awas anjing galak karena memang dia memelihara anjing dan galak. Tapi belum lama ini, tulisan tersebut berbeda.” Awas Corona galak, cuci tangan sebelum masuk rumah”. Dan di dekatnya ada hand sanitizer.. Aman... (Titiek T, Jalan Melati 5 No 284, Perum Condongcatur, Sleman)

Kiriman:
,

INI kejadian, sebelum heboh virus Korona. Di sekolah kami, 14 guru baru saja menyelesaikan latihan dasar di Semarang, selama 3 minggu. Mereka adalah guru berbagai mata pelajaran. Apa komentar setelah mengikuti Latsar? Mereka menjadi guru yang berbobot. Karena, rata- rata beratnya tambah 3 kg. Mengapa? Ternyata dalam Latsar tersebut makan penuh gizi teratur, tidur teratur, tak banyak aktivitas olahraga. Mirip di Taman Gizi. Jadi tambah bobotnya. (Dra Ayu DW, MTsN 1 Yogyakarta, Mendungan UH VII/566, Yogyakarta 55163)

Kiriman:
,

25 Maret 2020

MUNGKIN karena saking seringnya orang suka icip-icip, sehingga sebuah toko buah di Bantul pasang tulisan ‘jangan dipijiti’ di tempat buah duku. Sedang di buah kiwi ada ‘Jangan dicuweki’. Mengapa? sebab selama ini banyak yang ‘nyuwek’ buah kiwi dengan kuku jadi pada berlubang, padahal belum pasti beli.

Kiriman:
Ganjar Ardaka, Jurusan Teknik Kimia IST Akprind Yogyakarta

INI kejadian, sebelum 'badai virus Korona'. Tetangga saya punya anak siswa SD, yang sering diajak jalan-jalan seputar Alun-alun Utara Yogyakarta. Ternyata, anak tersebut diajak memperhatikan plat nomor kendaraan yang lalu lalang dan parkir di sekitar tersebut. Menurutnya, cara tersebut mengajari anaknya agar hafal pelat kendaraan yang banyak dari luar kota. (Hendra Sugiantoro, Jl IKIP PGRI No 168 Yogyakarta 55182)

Kiriman:
,

KETIKA kita memasuki masjid atau tempat untuk berwudhu, pasti membaca tulisan agar melepas sandal. Banyak cara dilakukan takmir masjid agar jamaah melepas sandal. Di Masjid RRI Gejayan, dipasang tulisan begini, ”Merek apapun, sandal harap dilepas”. (Hendra Sugiantoro Jl IKIP PGRI No 168 Yogyakarta 55182)

Kiriman:
,

14 Maret 2020

KAKAK saya mengajar Geografi di salah satu SMP di Kulonprogo. Suatu hari ia bertanya kepada muridnya, ”Siapakah yang menemukan Benua  Amerika?” Murid yang ditanya langsung menyahut, ”Lho, dereng kepanggih ta, Pak?” Murid lain menimpali, ”Diumumke wae nang iklan KR.”

Kiriman:
Ambar Isnaini, Banaran Sendangsari RT 92 RW 13 Sleman

12 Maret 2020

SAUDARA saya yang baru satu setengah tahun tinggal di Yogyakarta punya hobi baru, setiap pagi membaca SST di KR. Kalu sedang libur semester, dia minta difotokan SST dan dikirimkan lewat WA. Selesai membaca SST 10 Maret lalu, saudara saya berkomentar, “Redaktur SST pasti awet muda, karena tiap hari pasti senyum-senyum terus.”

Kiriman:
Rahma FK, warga Sumber Solo

11 Maret 2020

SABTU 22 Februari 2020 malam, di Alun-alun Kidul Yogyakarta ada persiapan festival mie dan jajanan yang akan diselenggarakan esok harinya, Minggu 23 Februari. Saya temui pengemis yang curhat, ”Mending besok jangan dikasih makan gratis, ya Mbak? Lebih baik diberi uang, bisa untuk beli kebutuhan seperti sembako.”

Kiriman:
Rafi Akmalluddin, Jalan Samirono Baru 41 Yogyakarta 55288

7 Maret 2020

AWAL Februari lalu saya mengadakan misa arwah dua tahun suami saya meninggal, di Gereja Jetis Yogyakarta. Umat yang datang sangat banyak. Mengenang suami, saya jadi teringat ketika pertama kali pendekatan hanya lewat kontak jodoh di surat kabar terbitan Jakarta. Saya masih ingat, perkenalannya di kontak jodoh itu hanya tujuh baris.

Kiriman:
Cheindra Octaria,, Jalan P Diponegoro 9A RT 012 RW 003 Gowongan, Yogyakarta 55232

MALAM Sabtu, ketika saya sedang antre membeli bakso, ada pembeli memesan bakso dibungkus. ”Jangan lupa kuahnya dipisahkan,” kata si pembeli. Setelah si penjual mengiyakan, si pembeli berpesan lagi, ”Tapi jangan jauhjauh, ya Mas. Ntar kangen.” Saya hanya terheran-heran mendengar dialog itu. (Sabita Mubarokah, Ngeblak RT 01 Wijirejo, Pandak Bantul 55761)

Kiriman:
,