01 Januari 1970

IBU mertua saya yang sudah berusia 80 tahun, akhir-akhir ini punya kebiasaan setiap malam mematikan lampu. Ketika saya tanya mengapa kamarnya selalu gelap, jawabannya seperti ini: ”Agar cahaya tidak dihabiskan di dunia. Cahayanya disimpan buat di alam kubur,” Saya hanya maklum, mungkin orang yang sudah usia lanjut memang sering berpikiran seperti itu.

Kiriman:
Eti Suryati, Kledung Karang Dalem RT 002 RW 001 Banyuurip, Purworejo 54171

01 Januari 1970

KAMIS 23 Juli 2020, saya membeli buku di lapak buku bekas. Setelah sampai di rumah, saya membaca buku yang memang sudah lama saya cari. Saat membaca bab 3, saya mendapati selembar uang kertas limapuluh ribuan di buku nonfiksi tersebut. Selain mendapat buku keren, saya juga dapat uang. Lumayan.

Kiriman:
Sutono, Harjosari Kidul RT 16 RW 04 Adiwerna, Kabupaten Tegal 52194

06 Juni 2020

HARI pertama lebaran lalu, bapak teman saya harus dilarikan ke rumah sakit. Penyebabnya bukan sakit kambuh, tetapi 'kemlurusen' karena tidak ada seorangpun anak-anaknya yang mudik karena sedang pandemi Covid-19. Meskipun sudah berkali-kali dijelaskan lewat telepon, bapak itu tetap tidak bisa memahami adanya imbauan bahwa perantau tidak mudik pada lebaran ini. (Sumarno, Klumutan RT 14 RW 07 Srikayangan, Sentolo Kulonprogo 55664)

Kiriman:
-

04 Juni 2020

PADA masa Covid-19 ini dianjurkan semua orang tinggal di rumah saja. Pekerjaan dan aktivitas lain seperti belajar, semua dilakukan di rumah. Sangat mungkin berbagai aktivitas tersebut dilakukan di tempat tidur, sehingga ada sebutan 'kaum rebahan'. Ketika saya cek tempat tidur anak saya yang masih di SMA dan sudah bekerja, ternyata busa tempat tidurnya menjadi cekung atau njemblok. (Drs Wiyana MPd, SMA Negeri 1 Semanu Gunungkidul 55893)

Kiriman:
-

01 Januari 1970

CUCU kakak saya yang baru berumur tiga tahun menangis minta dibelikan salak. Ketika dibelikan oleh ayahnya, si cucu tetap menangis dan mengatakan bahwa bukan buah itu yang diminta. Akhirnya si cucu diajak ke pasar agar ia memilih buah yang dimaksud. Sambiberlari gembira, ia menunjuk buah manggis, bukansalak yang diminta.

Kiriman:
Drs Subagya, Jalan Srikaloka 7 Bugisan Patangpuluhan, Wirobrajan Yogyakarta

30 Mei 2020

DUA anak saya saat ini masih sekolah di SMP dan di SMU. Selama pandemi Covid-19 ini, mereka hanya belajar di rumah. Karena bosan terlalu lama hanya berada di rumah, dua anak saya itu guyonan dan bermain bersama. Awalnya dilakukan sambil tiduran, tetapi lama-lama mereka bermain perang-perangan. Mungkin perangnya sangat seru, sehingga bantal dan guling jebol untuk gebuggebugan. (Dwi Lestari, Pepe RT 1 Trirenggo, Bantul 55714)

Kiriman:
-

29 Mei 2020

KETIKA sedang asik memilih baju di toko pakaian, tiba-tiba tangan saya ditarik perempuan paruh baya, bergegas menuju kasir sambil menunjukkan baju pilihan dan harganya. Sampai di depan kasir, saya dan perempuan itu membuka masker. Ia tampak tersipu malu. Mungkin suami perempuan itu memakai baju serupa dengan yang saya pakai dan mungkin samasama memakai masker.

Kiriman:
Muhanam, RT 001 RW 026 Karangbajang Tlogoadi, Mlati Sleman 55286

01 Januari 1970

TERNYATA pandemi Covid-19 tak semuanya membawa bencana. Paling tidak, seperti dialami oleh tetangga saya. Ia adalah penjahit yang sepi order. Sehari-harinya belum tentu mendapatkan order menjahit. Tetapi, sekarang tiap hari full kerja karena order membuat masker kain dari berbagai lembaga. Bukan hanya DIY tetapi dari luar daerah juga banyak. Covid-19 membawa rejeki! Tetapi tetap waspada.

Kiriman:
Broto Widodo, Janturan UH 4/380 Yogyakarta

20 Mei 2020

PADA bulan Puasa atau Ramadan ini, dari masjid kampungku akhirakhir ini sering terdengar petugas membangunkan warga untuk bangun dan makan sahur. Tidak hanya membangunkan warga untuk bangun makan sahur, petugas juga memberi peringatan kepada warga. ”Sahur... sahur.... Kalau tidak sahur, nanti badan greges-greges seperti saya.”

Kiriman:
Wahib Mubarak, Sangularan Sumberrejo, Tempel Sleman 55232

19 Mei 2020

SEPULANG dari pasar, istri saya membuka belanjaan dan menganginanginkannya. Saya lihat ada bungkusan berisi butir-butiran berwarna coklat, langsung saya comot dan saya simpan. Ketika buka puasa, benda itu langsung saya kunyah, tetapi rasanya aneh dan keluar buih. Ternyata itu lerak untuk mencuci kain batik. (Muhanam, RT 001 RW 026 Karangbajang, Tlogoadi Mlati Sleman 55286)

Kiriman:
-

01 Januari 1970

SELAMA ini kita hanya mengenal arisan dalam bentuk uang, tetapi di kampung saya ada arisan tenaga tandur pada saat musim tanam padi. Arisan tersebut diadakan karena akhir-akhir ini para petani kesulitan mencari tenaga tanam padi. Arisan dilakukan oleh sesama petani, dan yang dapat arisan bisa tanam padi dengan tenaga anggota arisan itu.

Kiriman:
Sumarno, Klumutan RT 14 RW 07 Srikayangan, Sentolo Kulonprogo 55664

13 Mei 2020

SAYA mempunyai hobi mengisi teka teki silang dan menulis sungguhsungguh terjadi, yang biasanya saya kirimkan ke redaksi menggunakan kartu pos dengan harga Rp 300 perlembar. Sekarang, saya pakai kertas manila, harganya Rp 1.800 perlembar bisa dibuat 36 lembar kertas ukuran kartu pos. Kalau pakai kartu pos, saya harus mengeluarkan uang Rp 10.800. Kalau memakai kertas manila hanya Rp 1.800. (Chendra Octaria, Jalan Diponegoro 9A RT 012 RW 003 Gowongan, Yogyakarta 55232)

Kiriman:
-