Bu Hermien, Energi Pelaku dan Pemikir (in memoriam empu tari klasik putri)

Purwadmadi
Pemerhati dan penulis seni budaya 

PROFESOR Dr AM Hermien Kusmayati, wafat. Kali ini, saya tidak memanggilnya Prof Hermien atau Kanjeng Prabamataya. Tapi, Bu Hermien. Suatu sore, ketika masih dalam situasi kesibukan jabatan, kebetulan janjian sowan ke rumahnya. Penulis mendapati Bu Hermin, membilas piring-piring yang selesai dicuci. Benar-benar melihat seorang ibu yang menikmati pekerjaan domestik.

Begitu penulis mulai bicara dengan Mas Mardjija, suaminya, Bu Hermien sudah siap bergabung sembari membawa nampan dan tiga cangkir sekoteng hangat. Sosok Bu Hermien, penanda penting dunia seni DIY, bukan hanya karena jabatan dan fungsi akademisinya, tetapi juga seorang pelaku pergulatan dunia tari klasik Yogyakarta, khususnya kagungan beksa Pura Pakualaman.

Seorang yang memiliki darah budaya Jawa Timur, pendidikan tari gaya Surakarta, dan besar menjadi pendidik seni di Yogyakarta. Pematangan sebagai, penari klasik gaya Surakarta (dan Pakualaman), akademisi seni tari sejak muda, matang di penelitian. Ia juga suntuk dalam cipta kreasi koreografi, berpengalaman di kerja rekonstruksi tari klasik Pura Pakualaman, teruji di struktur birokrasi pendidikan tinggi seni. Bu Hermien seorang guru besar yang sangat perhatian pada pendidikan seni Indonesia.

Kader Terbaik

Bu Hermien, salah satu murid dan kader terbaik empu dan maestro tari klasik Yogyakarta Prof Dr RM Soedarsono, guru besar sejarah kebudayaan UGM yang juga Rektor ISI Yogyakarta. Bu Hermien mengikuti jejak gurunya, mencapai jabatan rektor di almamaternya (2010-2014). Perjalanan akademik dan jabatan struktural di pendidikan tinggi seni, berikut dampak tugas-tugas akademis sebagai peneliti dan asesor, benar-benar merangkak dari bawah. Catatan reputasinya di bidang seni, peneliti, akademisi, bahkan sebagai pelaku seni, secara nasional dan internasional sudah tidak diragukan.

Kelembutan dan kesantunan Bu Hermien, yang membuatnya ‘bahagia berhati-hati’. Bu Hermien sosok yang sangat hati-hati menjaga ucapan dan tindakannya. Hati seorang ibu, yang tidak terbiasa meneriakkan prestasi diri. Satu contoh. Kerja penelusuran dan penyusunan ulang tari-tari klasik Pura Pakualaman telah suntuk, telaten, sabar dilakukan sejak era 1990-an bersama suaminya, Dr Mardjija, atas perintah Sri Paku Alam VIII.

Dr Mardjija menggeluti tarian kakung dan Bu Hermien bagian tarian-tarian putri. Sudah banyak tarian putri klasik gaya Pura Pakualaman yang melibatkan tangan dan pemikiran Bu Hermien. Penulis menyerap banyak informasi dari Bu Hermien perihal Bedhaya Tejanata dan Srimpi Nadheg Putri.

Nadheg Putri, harus ditelusur sampai ke sumber bakunya yang ada pada manuskrip. Bu Hermien bekerja keras bergandeng dengan para peneliti naskah, dan juga empu gending untuk iringannya.

Parampara Praja

Srimpi Nadheg Putri memiliki sumber pustaka yang kuat, bahkan bergambar. Salah satu gambar itu menjadi motif batik sari makara uneng, yang dipakai para penarinya. Namun sumber notasi gerak tidak ada, adanya notasi gendhing. Di sinilah terlacak kerja keras Bu Hermien bersama timnya mewujudkan kembali koreografi Srimpi Nadheg Putri atas dasar naskah otentik.

Akhir-akhir ini Bu Hermien sering mengajak bicara Bedhaya Renyep dan Bedhaya Angron Akung yang sedang dalam fokus perhatiannya. Prof AM Hermien Kusmayati (68), empu tari klasik putri, 2016-2021 anggota Parampara Praja DIY, lembaga penasihat Gubernur DIY. Di lembaga ini, fokus perhatiannya memancarkan energi pelaku dan pemikir, akan arti penting pendidikan seni untuk membangun kepribadian bangsa.

Terakhir, sebelum sakit dan wafat Sabtu (2/5), di forum Parampara Praja, mendiang memusatkan pemikirannya pada kelangsungan akademi komunitas seni dan pencapaian implementasi pendidikan berbasis budaya di DIY. Selamat jalan Prof, karya bakti pengabdian seni Ibu dikenang selalu.*** *)

BERITA REKOMENDASI