DLH Kembali Ingatkan Yogya ‘Kiamat Sampah’

YOGYA, KRJOGJA.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogya kembali mengingatkan potensi Yogya mengalami ‘kiamat sampah’. Hal ini karena pengelolaan sampah sangat bergantung pada TPST Piyungan. Sementara pengelolaan mandiri di Kota Yogya masih belum optimal.

Kepala DLH Kota Yogya Suyana menjelaskan, pada 23-29 Maret 2019 lalu sempat terjadi darurat sampah akibat penutupan TPST Piyungan. Gunungan sampah menumpuk di berbagai wilayah serta menimbulkan bau tidak sedap. “Itu nyata dan harus dipahami betul oleh masyarakat. Kalau darurat sampah dianggap biasa, bagaimana jika kelak ‘kiamat sampah’. Makanya mari bijak terhadap sampah sejak dari rumah tangga,” tandasnya dalam workshop Program Kampung Iklim (Proklim), Kamis (20/2).

Workshop tersebut diikuti perwakilan wilayah mulai dari kelurahan dan kecamatan. Harapannya pemerintah di wilayah mampu menggerakkan kampung atau RW dalam merealisasikan Proklim. Program tersebut lebih fokus pada kepedulian lingkungan guna memperlambat laju perubahan iklim.

Suyana mengaku, perubahan iklim sudah terjadi. Hal itu dibuktikan dengan kenaikan suhu permukaan bumi antara 1,5 hingga 3 derajat celcius dalam tiga tahun terakhir. Sampah diakuinya menyumbang perubahan iklim karena penumpukan sampah menghasilkan gas metan yang lebih berbahaya dari gas freon. “Gas metan itu bisa merusak ozon. Jika ozon rusak maka efek rumah kaca akan terjadi. Dampaknya bagi pertanian bisa mengalami gagal panen sehingga ketahanan pangan terganggu. Belum lagi permukaan air laut akan semakin naik, banjir rob serta penyebaran penyakit akibat nyamuk,” urainya.

Oleh karena itu, DLH berharap masing-masing warga harus mulai melakukan aksi nyata. Tidak hanya bijak terhadap sampah melainkan juga dalam hal penggunaan air, pembuangan limbah serta menekan polusi udara.

Sementara Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, mengatakan pengelolaan sampah secara mandiri sudah dilakukan di wilayah Tegalrejo dengan memanfaatkan insinerator sejak tahun 2019 lalu. Sampah yang diproduksi
masyarakat dimasukkan ke dalam alat tersebut untuk dibakar sampai habis.”Sampah yang dibakar ini sisa hasil pengolahan. Baik sampah organik maupun anorganik. Kami masih melihat, jika hasilnya bagus akan kami kembangkan ke semua wilayah,” katanya.

Di Tegalrejo terdapat tiga unit insinerator yang dibeli oleh wilayah setempat. Saat ini hasil pembakaran masih menimbulkan asap sehingga perlu disempurnakan hingga asapnya bisa ditekan. Pengelolaan sampah mandiri melalui insinerator dianggap lebih unggul karena tidak memerlukan lahan luas. Meski demikian model lain hasil penelitian juga akan diuji coba agar Kota Yogya tidak selalu bergantung dengan
TPST Piyungan. (Dhi)

BERITA TERKAIT