Dosen STP Ambarrukmo Sajikan Bir Mataram dan “Manuk Nom”

Editor: Ary B Prass

MAGELANG, KRJOGJA.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif c.q. Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya dan Kelembagaan bekerja sama dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Usaha Pariwisata Berbasis Klaster di DSP Borobodur” Rabu – Kamis, 23 – 24 Juni 2021 bertempat di Balkondes Desa Tuksongo, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM Pariwisata di DSP Borobudur, khususnya penerima bantuan Pemerintah, yaitu Program Peningkatan   Kualitas Rumah Swadaya untuk Usaha Pondok Wisata (Homestay) dan Usaha Pariwisata lainnya.
Chef Dodik Prakoso Eko Hery Suwandojo, S.ST.Par., M.M., CHE, Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta sebagai salah satu Instruktur Pelatihan Usaha Pariwisata Berbasis Klaster di DSP Borobodur, memberikan materi tentang Penyajian Makanan dan Minuman. Materi pelatihan disampaikan kepada peserta secara luring atau tatap muka dengan menerapkan prokes covid-19 yang sangat ketat.
Chef Dodik mengawali acara pelatihan dengan paparan tentang “Penyajian Makanan dan Minuman”, kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan kudapan “Manuk Nom” serta minuman “Bir Mataram”.
“Kedua menu tersebut dipilih Chef Dodik untuk dipraktikkan karena bahan bakunya mudah didapatkan di sekitar Borobudur sehingga sustainability-nya diharapkan bisa terkawal dengan penggunaan bahan lokal yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggal peserta pelatihan.”
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah kedua hidangan tersebut memiliki nilai historis yang sangat kental dengan Keraton Yogyakarta, sebagai hidangan khas Raja-Raja Mataram. “Bir Jawa” dibuat pada masa Sultan Hamengkubuwono VIII, sementara kudapan “Manuk Nom” merupakan salah satu kuliner bersejarah Keraton Yogyakarta.
Kudapan ini kerap disajikan di beberapa acara jamuan kerajaan mulai tahun 1877 sampai dengan tahun 1921. Karena kelezatannya, “Manuk Nom” mulai disuguhkan kembali sebagai hidangan pembuka pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII tahun 1921-1939. Sajian “Manuk Nom” ini juga merupakan salah satu menu kegemaran Sultan Hamengkubuwono IX.
Dalam melaksanakan praktik memasak Chef Dodik mengajak kepada peserta pelatihan untuk ikut terlibat langsung dalam proses pembuatan menu sebagai volunteer sehingga peserta pelatihan bisa mendapatkan pengalaman langsung.
Hadirin dan undangan diwajibkan mengikuti swab antigen sebelum menghadiri acara, kemudian hadirin dan undangan wajib mengenakan masker serta selalu menjaga kebersihan tangan dan menjaga jarak. Perlengkapan prokes covid-19 disediakan bagi hadirin dan undangan di dalam goody bag.
Acara yang sangat ini dibuka oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Kemenparekraf Dr Wisnu Bawa Tarunajaya  MM, serta dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A., DPR RI Komisi V Ir. Sudjadi, Ketua Umum KOWANI Kongres Wanita Indonesia Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd (secara Tapping), Ketua YHI KOWANI, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D., Ketua DPRD Kabupaten Magelang Saryan Adiyanto, S.E., Bupati Kabupaten Magelang Zaenal Arifin, S.IP., Balai Penyediaan Pelaksana Perumahan Jawa III ((BP2P Jawa III), Direktorat Jenderal Perumahan, Kementerian PUPR Mochamad Mulya Permana, ST., MT. (*)

BERITA REKOMENDASI