Ibarat Desainer, MUI Harus Pintar ‘Menjahit’ Perbedaan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebagai tenda besar, Majelis Ulama Indonesia (MUI) haris istiqomah menjalankan peran tersebut. Sebagai tenda besar, perbedaan antar-ormas Islam satu dengan lain semestinya bisa dijembatani MUI. Ibarat benang-benang yang berupa warna, tugas MUI menjahit benang-benang itu menjadi pakaian yang enak dipakai dan nyaman dipandang.

Rais Aam PBNU KH Miftah Akhyar mengemukakan hal tersebut dalam peringatan Milad le-45 MUI yang dilaksanakan secara daring, Jumat (07/08/2020) malam. Selain Miftah Akhyar, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir juga menyampaikan sambutan.

“MUI diharapkan terus istiqomah memerankan fungsi dalam menjahit perbedaan yang ada menjadi satu model pakaian, yang enak dipakai, dan elok dipandang. Pengurus MUI ibarat desainer handal yang meracik warna-warni kain menjadi satu kesatuan dalam satu tema bersatu dalam perbedaan, mencari titik temu atas perbedaan yang bisa disatukan, dan mewujudkan sikap saling memahami atas perbedaan yang tak mesti harus disatukan,” katanya.

Sebagai wadah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, Kiai Miftah menilai MUI memiliki peran sangat penting. Utamanya dalam menjalankan perannya sebagai melting pot, titik temu, rumah besar Umat Islam yang terdiri dari banyak kamar namun disatukan dengan dinding ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, MUI selama ini telah menjalankan peran sebagai majlis ini dengan baik.

Sebagai organisasi keulamaan, MUI menurut Rais Aam PBNU mengemban risalah kenabian. Risalah kenabian paling utama adalah risalah keutamaan akhlak. Nabi sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak umatnya. Sesuai hadis nabi Muhammad SAW, innama buitstu li utammima makarimal akhlak.

“Untuk itu, MUI harus memantabkan diri sebagai penjaga akhlak umat dan bangsa, menjadi teladan makarimal akhlak oleh ulama untuk kemaslahatan bangsa. Akhlak ulama akan menjadi faktor munculnya keberkahan bagi umat dan bangsa, terutama saat berada dalam krisis,” ujarnya.

Perekat Umat

Sedang Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyyah Prof Dr Haedar Nashir, berharap agar MUI mampu menjadi perekat umat dan bangsa dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa. Merekatkan ukhuwah dalam berbagai aspek dan golongan serta harap Haedar, menjadi uswah hasanah di dalam memajukan dan membangun kebersamaan di republik tercinta.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim menurut Haedar, Indonesia harus memiliki berbagai macam keunggulan pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlaq mulia dan kecerdasaan keilmuan. Menurutnya, kuantitas mayoritas harus tetap diimbangi dengan kualitas, terutama penguasaan teknologi dan peran kemanusiaan dalam kehidupan umat dan bangsa.

“Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan,” ungkapnya. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI