Kang Emil Apresiasi Pidato Sultan, Ingatkan Kuatnya Hubungan Jawa-Sunda

BANDUNG, KRJogja.Com – Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil menyampaikan pujian atas pidato Gubernur DIY yang juga Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan Hamengku Buwono X dalam Pertunjukan Gempita Budaya Jawa Barat-DIY di depan Gedung Sate, Bandung, Selasa (7/12/2021). Dalam pidato tersebut mengungkapkan fakta sejarah, mengenai saling keterkaitan antara Jawa, Kraton dan Sunda. Sehingga menguatkan akultrasi budaya dalam memperkuat rasa kebangsaan.

Ridwal Kamil mengungkapkan salah satu informasi yang penting dalam konteks sejarah, di mana 2 pohon beringin kembar di depan Kraton diambilkan dari bibit yang berasal dari daerah Padjajaran dan Majapahit. Waktu itu, tahun 1755, Sultan HB I saat membangun I membangun Adging Nagari, ditanam dua beringin kembar di Alun-Alun Utara secara silang. Kyai Jnndaru yang berasal dari Pajajaran ditanam di sebelah timur, dan Kyai Dwndaru dari Majapahit di sebelah barat, yang bermakna dalam.

Menurut Ridwan Kamil, kalau pun ada yang roboh, maka diambilkan dari pohon yang sama. ”Jadi harus dari bibit dari pohon yang sama, harus cucunya,” ujar pria yang sering disapa Kang Emil kepada wartawan usai menyaksikan pertunjukkan Gempita Budaya.

Ditampilkannya tarian Bedhaya Sapta dan bisa digelar di Bandung merupakan bukti bahwa Sri Sultan sangat menghargai persahabatan yang dibangun sejauh ini. ”Bedhaya Sapta itu ternyata tarian ciptaan HB IX yang inspirasinya dari Babad Pasundan, yang seratnya ditemukan di Gedung Sate tahun 70-an. Jadi inspirasinya berasal dari Sultan Agung mengirim utusan untuk membuat batas wilayah, dalam perjalanannya akhirnya jatuh cinta dan akhirnya menikahi orang Sunda,” katanya.

Persahabatan Jabar-Yogyakarta ini, ucap Kang Emil, juga tercermin dalam tarian Beksan Menak Kakung Umarmaya Umarmadi yang koreografinya terinspirasi dari wayang golek Sunda. ”Jadi kesimpulannya Yogyakarta adalah tarian sakral, yang ada di Keraton ditampilkan. Saya juga baru tahu begitu dalam tarian ini. Intinya ini harus diperbanyak di daerah yang bising oleh pertengkaran yang sifatnya tidak fundamental,” tuturnya.

Sultan menyampaikan pertunjukan tersebut merupakan momentum yang sangat menentukan, dalam artian ada sejarah baru terbentuk di antara Jabar dan Yogyakarta. ”Kami mencoba membuka sejarah yang pernah terjadi dan juga sudah dilakukan oleh para leluhur-leluhur kami di dalam hubungan dengan Jabar, khususnya Pajajaran dan sebagainya. Kami mencoba membuka kotak pandora yang selama ini tidak pernah terekam dalam pemahaman kita bersama,” ujarnya.

”Semoga saja dari peristiwa yang sudah terjadi ini kita bisa membangun sinergi yang lebih bermanfaat bagi republik ini, karena kita sudah final menjadi bagian dari republik,” kata Sultan. (Jon)-f

BERITA REKOMENDASI