Keringanan Retribusi Hanya Berlaku di Enam Pasar Tradisional

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com –  Pemberian keringanan pembayaran retribusi bagi pedagang pasar tradisional kembali diperpanjang. Akan tetapi besarannya diturunkan menjadi 25 persen dan hanya berlaku di enam pasar tradisional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogya Yunianto Dwisutono, menjelaskan perpanjangan keringanan pembayaran retribusi pasar sudah dilakukan dua kali. ”Seharusnya kan selesai akhir Juli, kemudian kami perpanjang sampai akhir Agustus. Saat ini kami perpanjang lagi sampai akhir September,” jelasnya.

Setiap fase perpanjangan, cakupan pedagang yang berhak atas keringanan berikut potongannya pun disesuaikan. Pada fase awal kebijakan tersebut digulirkan, keringanan diberikan bagi semua pedagang pasar tradisional dengan besaran 25 persen, 50 persen dan 75 persen.

Selanjutnya pada fase kedua, hanya diberikan sebesar 25 persen dan 50 persen. Sedangkan fase ketiga kali ini hanya 25 persen bagi pedagang yang berjualan di enam pasar khusus.

Keenam pasar yang pedagangnya berhak atas keringanan retribusi ialah Pasar Beringharjo Barat, Beringharjo Tengah, Beringharjo Timur, Klitikan Pakuncen, Giwangan dan Pasthy. Sementara 24 pasar tradisional lainnya para pedagangnya sudah wajib membayar retribusi dengan tarif normal.

”Kalau pasar lainnya menjual komoditas harian dan aktivitasnya sudah berjalan normal. Berbeda dengan enam pasar yang mendapatkan keringanan karena konsumennya tergantung dari wisatawan atau minat khusus,” imbuh Yunianto.

Kepala Seksi Pendapatan Pasar Nastuti, menambahkan meski ada keringanan namun sistem pembayaran harus sesuai waktu tiap bulan. Jika ada yang menunggak maka secara otomatis akan dikenai denda sebesar dua persen dari ketetapan.

”Selama masa pandemi banyak pedagang yang menunggak pembayaran retribusi. Tetapi meski sudah ada keringanan retribusi, namun denda tetap berlaku,” katanya.

Di samping itu, realisasi retribusi pasar selama enam bulan belakangan juga terjadi penurunan yang cukup signifikan. Jika sebelum masa pandemi tiap bulan rata-rata terkumpul Rp 1 miliar lebih, kini hanya Rp 600 juta hingga Rp 700 juta per bulan. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI