Memahami dan Mengkonter Radikalisme

Editor: Ivan Aditya

SECARA etimologis, kata radikal sejatinya bermakna netral. Radikal bisa berarti positif dan negatif, sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Dalam filsafat, misalnya, radikal justru bermakna sangat positif. Bahkan radikal menjadi bagian dari karakter berpikir filsafati, selain sifat menyeluruh dan spekulatif. Radikal juga berarti berpikir secara radix, berpikir dari akar persoalan.

Sementara makna negatif dari kata radikal merujuk pada budaya suka menyalahkan dan mengkafirkan orang lain. Apalagi jika budaya diekspresikan dalam bentuk kekerasan pada orang yang tidak sepaham dengan dirinya. Kelompok radikalis dengan karakter negatif selalu berpikiran: He who is not with me is against me. (Orang yang tidak sama dengan saya adalah musuh saya). Pandangan ini sangat berbahaya karena dapat menghadirkan terror.

Kaum Muda

Dimensi radikal yang berkonotasi negatif akan lebih menguat jika berubah menjadi ideologi atau paham dalam bentuk radikalisme. Sebagai ideologi, radikalisme menjadi sistem keyakinan atau nilai yang terus diperjuangkan. Pada konteks itulah tokohtokoh gerakan radikal akan terus mencari kader sebagai pelanjut perjuangan.

Salah satu kelompok yang disasar pembawa virus radikal adalah kaum muda. Kaum muda sangat rentan terpapar ideologi radikal karena tergolong masih labil. Mereka pada umumnya sedang berproses untuk menemukan jati diri. Di tengah proses identifikasi jati diri itulah para pelajar dan remaja mudah tergoda ideologi radikal. Dapat dipahami jika perhatian pemerintah terhadap radikalisme sungguh luar biasa.

Tampak sekali ada komitmen lintasinstansi di pemerintahan untuk mengkonter radikalisme. Namun sangat disesalkan jika komitmen untuk mengkonter radikalisme terkadang dilakukan secara membabi buta. Sebagai contoh, mengaitkan radikalisme dengan masjid, pendidikan Islam, dan majelis taklim. Demikian juga dengan tuduhan terhadap penghafal Alquran (hafidz) dan pemakmur masjid yang berwajah rupawan (good looking) sebagai pembawa virus radikalisme. Semua tuduhan jelas kontrapoduktif sekaligus melukai perasaan umat.

Merujuk penjelasan Azyumardi Azra (2019), radikalisme dalam perspektif yang lebih popular dapat dimaknai sebagai paham atau praksis anti-Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI), anti-Pancasila, anti-UUD 1945, dan anti-Bhinneka Tunggal Ika. Karenanya, jika ada seseorang atau kelompok yang ingin mendirikan negara dengan sistem khilafah (daulah Islamiyah), maka mereka akan mendapat label radikal. Sebab, pandangan politik yang lintasbatas (transnasional) dinilai tidak sejalan dengan negara Pancasila dan NKRI.

Dimensi Politik

Perhatian pemerintah terhadap radikalisme tampaknya baru sebatas pada isu yang berkaitan dengan keagamaan. Padahal radikalisme sejatinya lebih menunjukkan dimensi politik daripada keagamaan. Lebih ironi lagi, terjadi simplifikasi pandangan yang mengatakan bahwa radikalisme berkaitan dengan agama tertentu. Padahal faktanya radikalisme dapat muncul dalam banyak tradisi keagamaan. Pemahaman ini penting agar program mengkonter radikalisme menjadi komitmen seluruh elemen bangsa.

Untuk mengkonter radikalisme, seluruh elemen bangsa juga penting memahami bentuk radikalisme di luar keagamaan. Di antara ekspresi radikalisme di luar keagamaan adalah radikalisme politik dan radikalisme ekonomi. Bentuk radikalisme politik dalam praktiknya dilakukan dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Sementara radikalisme ekonomi dilakukan dalam bentuk kepemilikan mayoritas aset dan penguasaan sumber ekonomi oleh sekelompok kecil golongan bangsa. Radikalisme ekonomi jelas bertentangan dengan amanah konstitusi.

Jika radikalisme politik dan ekonomi tumbur subur, maka segala usaha mengkonter radikalisme bernuansa keagamaan tidak akan pernah sukses. Sebab dalam waktu bersamaan pemerintah juga memberikan peluang munculnya radikalimse melalui kebijakan yang tidak berkeadilan. Harus diingat, salah satu pemicu munculnya radikalisme adalah ketidakadilan.

Prof Dr Biyanto.
Guru Besar Filsafat UIN Sunan Ampel, Wakil Sekretaris PWM Jawa Timur.

BERITA REKOMENDASI