Mengukur Kemampuan Seorang Akuntan Hadapi Era Society 5.0

JAKARTA, KRJOGJA.com – Perkembangan dari sebuah teknologi informasi sudah membawa dampak yang luas di dunia ini. Perkembangan terbaru yang sedang menjadi buah bibir saat ini munculnya Era Society 5.0 sebagai langkah lanjutan setelah Era Revolusi Industri 4.0.

“Sebuah pembaruan ilmu dan teknologi informasi telah banyak menggantikan cara pandang dan gaya hidup seseorang di dunia dalam menjalankan aktivitasnya. Adanya teknologi informasi dalam bidang Sistem Informasi Akuntansi (SIA) telah membawa eras baru pada perkembangan dunia ekonomi,” tutur Kepala Program Studi Sistem Informasi Akuntansi, Universitas BSI (Bina Sarana Informatika), Adi Supriyatna, Sabtu (15/5).

Adi mengatakan, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan SDM sebagai penentu keberhasilan dunia ekonomi. Khususnya di Indonesia ini, dalam lini lebih kecil yakni pada pendidikan tinggi di Universitas BSI.

“Dosen serta mahasiswa prodi Sistem Informasi Akuntansi (SIA) Universitas BSI dalam menghadapi pandemi covid-19 dan Era Society 5.0, telah didukung dengan metode kegiatan belajar mengajar yang menyesuaikan. Bahkan bimbingan tugas akhir secara daring menggunakan teknologi informasi yang terbaru untuk berkomunikasi bisa diterapkan dengan efektif,” pungkasnya.

Ia menjelaskan, konsep revolusi industri 4.0 dan society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Era revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligent, sedangkan era society 5.0 fokus kepada komponen manusianya. Konsep society 5.0, menjadi inovasi baru dari society 1.0 sampai society 4.0 dalam sejarah manusia di dunia.

“Pada era society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses serta membagikan informasi di internet. Sedangkan pada society 5.0 semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan,” ujarnya.

Teknologi informasi saat ini sering digunakan oleh para profesi akuntan untuk mekanisasi tugas-tugas departemen akuntansi, seperti pelaporan dan pengumpulan data.

“Profesi akuntan harus dapat memanfaatkan dan mengembangkan teknologi informasi kedalam cara yang dapat memberi nilai tambah kepada profesinya. Inilah yang menjadi tantangan terbaru prodi SIA Universitas BSI dalam menerapkannya kepada mahasiswa,” ungkapnya.

Hal ini mengisyaratkan bahwa profesi akuntan harus peduli dengan perkembangan terakhir dalam teknologi dan mampu mengadopsi teknologi tersebut untuk meningkatkan kinerja secara keseluruhan.

“Lulusan prodi Sistem Informasi Akuntansi, harus menjadikan revolusi tersebut sebagau tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satu tantangan yang hadir yaitu perkembangan aplikasi baru yang menjadikan peran akuntan tidak dibutuhkan lagi,” katanya.

Lanjutnya, persaingan antara lulusan sistem informasi akuntansi atau profesi akuntan harus mampu untuk berlomba-lomba membuat inovasi baru guna mempertahankan posisi mereka.

BERITA REKOMENDASI