Rofik Ismanto Mengenang PSIM : Wajib Kenakan Nomor Punggung Berjumlah 9 dan Terdegradasi di Liga Dunhill

Ingatan Rofik pun mulai berputar ke belakang mencari kotak data pengalaman yang dialami pada era itu. Ia menceritakan, kenangan mendapat uang Rp 50 ribu per latihan, hingga gol-gol yang diciptakan juga pengalaman pertandingan-pertandingan keras pada kompetisi yang lekat dikenang dengan nama “Liga Dunhill” itu.

“Kita kaget jujur karena format diubah, Galatama dan Perserikatam dilebur jadi satu. Secara materi kita belum siap dengan Galatama karena harus diakui, lebih bagus dari Perserikatan. Itu terasa terlalu berat memang, tapi mau tidak mau dijalani,” ucap Rofik saat dijumpai di kedai Soto Betawi miliknya di Jalan Kaliurang.

Saat itu, pada awal musim PSIM dilatih duet Nurdin Basyar dan Bambang Nurjoko karena pelatih sebelumnya, Bertje Matulapelwa tak menemui kesepakatan. Namun kemudian beberapa pertandingan, posisi pelatih berganti menjadi Dananjaya hingga akhir musim.

“Tahun itu memang kita sangat sulit menang, di pertandingan pertama di Mandala Krida, kita kalah 1-3 dari Assyabaab tapi saya berhasil cetak satu gol. Itu saya ingat tendangan dari luar kotak penalti,” kenang Rofik.

BERITA REKOMENDASI