Rofik Ismanto Mengenang PSIM : Wajib Kenakan Nomor Punggung Berjumlah 9 dan Terdegradasi di Liga Dunhill

Kondisi PSIM pada musim itu memang tidak bagus secara hasil, bahkan terdegradasi di akhir musim. Hanya saja, secara bounding tim, Rofik merasa seluruh pemain dalam semangat yang sama untuk PSIM.

“Memang di akhir-akhir, kurang empat pertandingan begitu dinyatakan pasti degradasi, semangat kita kendor ya. Latihan hanya delapan orang, tidak pernah komplit. Tapi secara keseluruhan, kita sulit menang tapi sebenarnya kalau kalah-kalah tipis dengan materi yang ada. Di pertandingan terakhir lawan Arema saya cetak gol. Jadi saya buat gol musim itu, awal dan akhir,” kenangnya.

Kurang lebih enam tahun Rofik Ismanto berkarier bersama PSIM. Merasakan bayaran Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu per latihan menjadi kenangan tersendiri, termasuk alasan memilih nomor punggung 9 yang menjadi ciri khas baginya.

PSIM pada masa itu (1994-1995) memang masuk dalam kategori semi profesional, tiap pemain mendapatkan uang saku mingguan yang nilainya didasarkan pada jumlah latihan. Setiap latihan, manajemen di bawah almarhum dr Hadianto Ismangoen memberikan pemain Rp 50 ribu yang diakumulasi setiap akhir pekan.

BERITA REKOMENDASI