Sekolah Lapang Iklim Amankan Produksi Pertanian

WONOSARI, KRJOGJA.com – Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jakarta Prof Ir Dwi Korita Karnawati PHd mengungkapkan, Sekolah Lapang Iklim (SLI) diharapkan menjadi literasi bagi petani sehingga memiliki pengetahuan dan pemahaman cuaca dan iklim, dalam rangka meningkatkan produksi hasil pertanian. Termasuk petugas PPL, POPT dalam memanfaatkan informasi iklim di wilayah kerja.

“Pengetahuan ini penting dalam rangka antisipasi dampak femomena iklim ekstrem”, kata Dwi Korita di acara Focus Grup Diskusi Hasil Kegiatan Sekolah Lapang Iklim Operasional di Rest Area Gubug Gede, Ngalang, Gedangsari, Selasa (03/11/2020).

Kegiatan ini dibuka resmi secara virtual oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan dihadiri Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas, perwakilan Bank Indonesia, Bupati diwakili Kepala Bappeda Gunungkidul Sri Suhartanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Ir Bambang Wisnubroto, muspika dan peserta diskusi. Selain di Ngalang, Tahun 2020 SLI juga dilaksanakan di Tirisan, Karangwuni, Rongkop dan Silingi, Umbulrejo, Ponjong. Dalam kesempatan tersebut Dwi Korita juga meminta masyarakat dan petani untuk mewaspadai La Nina, dimana akan terjadi peningkatan curah hujan. Untuk di Gunungkidul diprediksi meningkat 10 hingga 30 persen. Sehingga perlu untuk diwaspadai atau diantisipasi bencana alam. Termasuk wilayah Gedangsari yang dalam kategori rawan longsor. ” Diperlukan antispasi untuk menjaga atau mengamankan produksi pertanian dan mencegah bencana alam, ” imbuhnya.

Sementara itu Gubernur DIY Sri Sultan HB X menuturkan, SLI program BMKG merupakan upaya mendorong produktifitas pertanian melalui teknologi. Tujuannya yakni meminimalisir penurunan produksi hasil pertanian dampak iklim ekstrem. Kehadiran BMKG juga untuk mendukunh upaya mengantisipasi bencana alam. Melalui penanaman pohon diharapkan akan dapat mendukung menjaga mata air dan mampu mencegah terjadinya longsor. (Ded)

BERITA REKOMENDASI