Sistem Seleksi Camaba Timur Tengah Kemenag Diapresiasi

Sebab, lanjut Bambang yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir saat ini sangat banyak, dengan keragaman latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi. Hal ini memerlukan keterampilan diplomasi, kemahiran komunikasi, keterampilan mengelola masalah, penyesuaian akademik dan sosial, kreatifitas, serta kesabaran dan ketabahan.

 

“Jika setiap tahun sekitar 2000 sampai 3000 mahasiswa baru berdatangan ke Mesir, sementara jumlah mahasiswa yang selesai kuliah setiap tahun masih minim, maka tantangan tersebut akan semakin berat,” jelasnya.

 

*Pemantapan Kemampuan Bahasa*

 

Pasca pengumuman seleksi Camaba Timur Tengah 2021, Kementerian Agama bersama dengan OIAA dan stakeholders yang lain segera mempersiapkan proses pemberkasan dan persiapan akademik lainnya. Ini dilakukan sejak awal agar proses ya berjalan lancar, apalagi masih di tengah pandemi Covid 19.

 

Selain itu, kata Adib, pemerintah melalui Kementerian Agama sejak tahun 2019 juga memfasilitasi calon mahasiswa dengan pengayaan bahasa melalui Markas Lughoh Syaikh Zayd Mesir cabang Indonesia yang dulu dikenal dengan nama PUSIBA.

 

Sebagai pusat bahasa yang terpercaya, Lembaga Syaikh Zayd akan menguji kesiapan calon mahasiswa yang akan belajar ke Al-Azhar Mesir. Kehadiran Markaz Lughoh Syaikh Zayd di Indonesia atau PUSIBA sejak tahun 2019 sangat memudahkan banyak pihak. Hal ini mengingat, calon mahasiswa tidak harus langsung ikut penguatan bahasa di Mesir dengan status belum sebagai mahasiswa.

 

“Bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah ke Al Azhar dan telah lulus seleksi Kementerian Agama, wajib mengikuti tahdid al mustawa. Ini semacam placement test di Pusat bahasa tersebut. Selanjutnya, dilakukan pemantapan kemampuan Bahasa Arab hingga yang bersangkutan dinyatakan eligible untuk mengikuti perkuliahaan,” jelas Adib memberikan catatan.

 

Eksistensi PUSIBA sendiri yang lahir pada bulan Juni 2019 telah dibekukan atau dibubarkan. Hal ini berpijak pada keterangan Dr. Muchlis Hanafi, Lc pada FGD di wisma Syahida (10/5/2021). Menurut Dr. Muchlis, saat ini yang masih eksis adalah Markaz Syaikh Zayd cabang Indonesia. “Hal ini sepertinya dilakukan semata-mata dalam rangka mengembalikan fungsi otentik akan amanah dibentuknya lembaga tersebut,” tutur Adib.

 

“Sekali lagi, pemerintah melalui Kementerian Agama justru hadir dalam proses Seleksi Camaba Timur Tengah tersebut untuk memastikan mereka yang akan kuliah di Mesir merupakan input terbaik yang akan menjadi ambassador bagi bangsa Indonesia di negara lain dengan prestasi akademik yang baik, bahkan memuaskan,” tandasnya.(ati)

 

BERITA REKOMENDASI