Ada Apa dengan Desa Wisata Karangrejo?

Editor: Agus Sigit

Oleh: Heny Sulistiyani

ADAKAH warna hijau lain yang lebih menyejukkan mata selain hamparan sawah, ladang pertanian, dan rimbunnya pepohonan? Jawabannya akan Anda lihat di sepanjang Perbukitan Menoreh yang terbentang sepanjang Timur hingga Barat. Ya, ada surga tersembunyi di balik megahnya mahakarya Borobudur, yaitu sebuah desa wisata bernama Karangrejo.
Adanya penetapan Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya sebagai satu dari lima destinasi wisata super prioritas, ternyata banyak memberikan perubahan bagi desa ini. Sejumlah proyek infrastruktur dan program dijalankan demi mendongkrak pariwisata dan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat.

Pemerintah pun telah membentuk Badan Otoritas Borobudur (BOB) sejak 2017. Badan yang berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, menjalankan perannya lebih luas untuk bergerak dan berinovasi sekaligus membangkitkan ekonomi desa. Terlebih saat ini, masih banyak yang terdampak pandemi.

Desa wisata ini telah disulap menjadi kampung organik. Kegiatan pertanian organik mulai dari bercocok tanam hingga proses panen bisa ditemukan di desa ini. Anda juga bisa terjun langsung dan belajar tentang pertanian organik bersama warga sekitar.
Desa ini telah memiliki homestay terbaik kelas dunia dan sudah tersertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan dan ditargetkan menjadi desa wisata mandiri. Desa seluas 174 hektare ini juga memiliki keindahan alam berupa spot-spot wisata yang instagramable, di antaranya:

1. Punthuk Setumbu

Punthuk Setumbu berasal dari bahasa Jawa yaitu punthuk yang bermakna gundukan atau perbukitan. Sedangkan setumbu bermakna tumbu atau tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Jadi nama Punthuk Setumbu memiliki makna sebuah bukit yang berbentuk seperti tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu.

Punthuk Setumbu berada di ketinggian 400 mdpl dan berlokasi di Dusun Kurahan, Desa Karangrejo. Tempat ini semakin meroket setelah menjadi salah satu scene film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Dari sinilah golden sunrise banyak diburu wisatawan. Keindahan matahari yang muncul tipis-tipis di antara Candi Borobudur, Gunung Merapi dan Merbabu, sungguh sebuah momen yang sangat dinantikan.

Hanya dengan tiket masuk Rp 20, Anda akan dibuat terpana dengan pemandangan menakjubkan di atas ketinggian. Gazebo-gazebo unik, spot foto menarik dan kekinian, serta camping area juga disediakan pihak pengelola.

2. Gereja Ayam atau Bukit Rhema

Tidak jauh dari Punthuk Setumbu, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Gereja Ayam. Sebuah rumah ibadah yang dibangun dengan arsitektur menyerupai burung merpati. Burung merpati merupakan simbol perdamaian dari Roh Kudus. Di kawasan ini terdapat sebuah bukit yang cantik bernama Bukit Rhema. Perpaduan yang unik karena berkunjung ke tempat ini Anda akan mendapatkan tiga suasana berbeda sekaligus berupa wisata religi, alam, dan edukasi.

Bangunan klasik dan unik itu masih berdiri megah dan terjaga hingga kini. Lokasi yang bersih dan hijau membuat kaki dapat melangkah ringan dan nyaman. Satu yang mencuri perhatian, pengunjung rela antre untuk bisa naik ke puncak mahkota burung agar bisa berswafoto dan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.

3. Kebun Buah Karangrejo
Dari Punthuk Setumbu wisatawan bisa beralih ke kebun buah yang sangat cocok untuk wisata keluarga dan ramah bagi anak-anak. Pemanfaatan lahan ini sebagai tempat rekreasi publik sungguh dapat ditiru. Di lahan seluas 2,5 hektare itu ditanami puluhan bibit kelengkeng dan durian.

Sebuah pendapa klasik khas Jawa menjadi cirikhas kebun buah ini. Di sepanjang taman terdapat jalan setapak yang lebar dan terbuat dari bebatuan. Selain lampu-lampu taman, meja batu besar dengan kursi-kursi kecil yang berjajar apik di sela-sela pohon, ada juga miniatur stupa Candi Borobudur yang mempercantik taman buah ini. Tersedia pula taman parkir yang luas dan gratis.

4. Balkondes Karangrejo
Karangrejo memiliki Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Semua aktivitas wisata dikelola masyarakat, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Gaya bangunannya yang tradisional bercampur modern, didominasi oleh bangunan kayu. Berlokasi di tengah persawahan, homestay ini memiliki fasilitas setara hotel berbintang.

Kegiatan usaha rumahan pun tak kalah dengan desa wisata lainnya yang ada di sekitaran Candi Borobudur. Gula aren, empon-empon, keripik ketela, jahe, gerabah, dan aneka suvenir berbentuk miniatur Borobudur yang terbuat dari batu dan bambu.
Saat itu matahari sangat bersahabat dan angin tidak bertiup terlalu kencang. Sepanjang perjalanan mengeksplor desa ini, panca indera kami dibuat lebih hidup untuk mengenali alam sekitar. Mata berbinar melihat hijaunya bentangan sawah dan ladang, hidung mengendus-endus segarnya udara pedesaan, telinga riuh oleh kicauan burung. Lidah pun dimanjakan makanan khas pedesaan. Sungguh nikmat betul rasanya.

Karangrejo yang indah, penduduknya yang ramah, lukisan kebiru-biruan pada langit yang cerah, apa lagi yang bisa lebih indah dari ini semua? Maka, perjalanan memang bukan sekadar pergi dari satu tempat ke tempat lain, dari tanggal satu ke tanggal lain, karena sebuah perjalanan ternyata bisa membuat seseorang lebih mengenal dirinya lagi. Kembali ke alam, kembali mengenal sisi lain kehidupan. ***

(Penulis adalah Juara 2 Kategori Desa Wisata Karangrejo)

BERITA REKOMENDASI