Ayunan Langit dan Masuk Gua, Uji Adrenalin di Purwosari

INGIN jadi Gatotkaca melayang di udara, berayun-ayun di atas hijaunya hutan batas antara Kulonprogo dan Purworejo? Wow… jangan lupa, abadikan momen itu dengan foto atau video.

Hamparan hijau bukit Menoreh terlihat seperti permadani dari bukit Watujaran, di ketinggian 800 m di atas permukaan laut (dpl). Apalagi saat matahari mulai tenggelam di kaki langit sana. Semburat merah, menjadi pemandangan yang menarik, sambil berayun-ayun sekaligus menguji adrenalin kita.

Ini adalah bagian wahana wisata di Desa Wisata Purwosari, Sabrangkidul, Girimulyo, Kulonprogo. Baru dibuka belum ada sebulan, namun animo untuk menjadi 'Gatotkaca' dalam wahana yang diberi nama 'Ayunan Langit' cukup menarik.  
"Masih banyak yang kami tawarkan Purwosari sebagai destinasi wisata," kata  Ketua Desa Wisata Purwosari, Kiswantoro.

Di wilayah Perbukitan Menoreh yang rata-rata suhu udara 20-30 derajat Celcius tersebut, dilingkupi pepohonan yang rimbun, bukan hanya legenda cerita petualangan kesatria di Bukit Menoreh seperti cerita bersambung di Kedaulatan Rakyat karya SH Mintardja saja, namun beberapa objek memang menarik untuk dikunjungi. Gua Kidang Kencono misalnya, menawarkan petualangan di perut bumi bukit Menoreh.

Goa Kidang Kencono

Mulut gua itu dari luar seperti menyempit sekitar 2-3 meter. Namun dipandu petugas berpengalaman, perjalanan menjadi menarik. Sungai kecil, kemudian bebatuan yang unik seolah bisa bercerita.

Mengapa disebut Kidang Kencono, menurut legenda, ratusan tahun lalu hidup seorang tua bernama Mbah Bongsonoyo. Suatu hari kehilangan kambing ternaknya, dan ditemukan berada di gua dengan seekor Kijang atau Kidang Kuning. Kijang lari masuk gua tersebut. Sejak itulah disebut gua Kidang Kencono.

Di perut gua ada ruangan agak luas, diterangi head lamp pemandu terlihat bebatuan unik sepanjang perjalanan. Ada batu yang bentuknya seperti tiang penyangga, perpaduan stalakmit dan stalaktit yang disebut Soko Buntet. Atau semacam stupa besar, yang menurut pemandu namanya Candi Sewu dan masih banyak lagi batuan unik dengan nama yang unik. Banyak mitos bentuk bebatuan tersebut. (Octo Lampito)

BERITA REKOMENDASI