Epos Ramayana dalam Fragmen Sugriwa Subali, Ikon Desa Wisata Jatimulyo

Editor: Agus Sigit

Oleh: Danang Firmanto

RAJA Goa Kiskenda, Mahesasura, muntab setelah membaca sepucuk surat yang disampaikan saudaranya, Lembusura. Berita yang ditulis dalam secarik daluang itu berisi penolakan lamaran oleh Dewi Tara, putri Bathara Indra dari Kahyangan. Kakak beradik penguasa Goa Kiskenda itu lantas berniat menculik Dewi Tara.

Bertempat di area Goa Kiskenda, belasan pemain gamelan memukul instrumen dengan ritme tinggi. Alunan suara bonang bercampur gendang dan gong yang cepat membuat suasana menjadi tegang. Para penari memainkan polatan dengan apik diikuti gerak yang menunjukkan ekspresi kemarahan.

Mereka tengah menampilkan cerita peperangan dalam balutan fragmen Tari Sugriwa Subali di Goa Kiskenda di Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo , Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut berbagai sumber, kisah peperangan dua wanara kakak beradik Sugriwa dan Subali itu muncul di zaman Ramayana. Mereka diutus Bathara Indra untuk menyelamatkan Dewi Tara yang disandera Mahesasura dan Lembusura. Para dewa di Kahyangan sepakat memberikan kesaktian Aji Pancasona kepada Subali, kakak Sugriwa.

Pertarungan pun terjadi di dalam. Dengan cepat Subali berhasil merebut Dewi Tara dan menitipkan kepada Sugriwa yang menunggu di mulut Goa Kiskenda. Dia meminta adiknya untuk menjaga Dewi Tara. Sebelum kembali ke dalam untuk menuntaskan pertarungan, ia berpesan kepada Sugriwa. Apabila melihat keluarnya darah berwarna merah dari mulut goa, maka Subali memenangkan pertarungan. Namun, jika yang keluar adalah darah berwarna putih, maka Subali tewas dan meminta Sugriwa segera menutup pintu goa dengan batu besar.

Tiga penari yang memerankan Subali, Mahesasura dan Lembusura sengit beradu kesaktian. Gerak tangan dan kaki yang tegas dari Subali menunjukkan dialah yang lebih sakti. Tapi tak disangka, Sugriwa justru terkejut ketika melihat darah merah bercampur putih keluar dari mulut goa yang diilustrasikan berupa kain warna merah putih memanjang. Ia mengira kakaknya tewas bersama salah satu penguasa Kiskenda. Padahal itu darah Mahesasura dan Lembusura bercampur isi kepala mereka yang pecah diadu oleh Subali.

Tanpa pikir panjang, Sugriwa menggeser bongkahan batu berukuran besar untuk menutup rapat mulut goa. Ia kemudian bergegas membawa Dewi Tara ke Kahyangan. Sementara Subali terkejut melihat mulut goa tertutup rapat setelah berhasil membinasakan Mahesasura dan Lembusura. Merasa dikhianati, Subali marah dan mengejar Sugriwa hingga perkelahian kedua saudara itu tak terelakkan.

Masih Dipentaskan

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, pernah menghelat pementasan Sendratari kolosal Sugriwa Subali perdana pada pada Maret 2015. Sejak saat itu sendratari tersebut rutin dipentaskan hampir setiap bulan.

Melansir dari Kompas.com, pada 7-27 Oktober 2018, Sendratari Sugriwa Subali menjadi primadona dalam agenda Menoreh Art Festival yang bertepatan dengan hari jadi ke-67 Kabupaten Kulonprogo. Sendratari tersebut berdurasi sekitar 30 menit hingga 1 jam. Ribuan penonton rela berdesakan  menyaksikan tari yang telah menjadi kearifan lokal Desa Wisata Jatimulyo tersebut.

Munculnya pandemi Covid-19 tak menyurutkan pertunjukan Sugriwa Subali di Kulonprogo. Pada 18 Maret 2021, Dinas Pariwisata setempat menggelar Familiarization Trip (Fam Trip) yang bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata Kulonprogo. Fragmen Tari Sugriwa Subali pun masuk menjadi bagian dari agenda Fam Trip yang berlokasi di Taman Wisata Goa Kiskenda. Hal yang menarik adalah, para penari dan pemain gamelan tetap patuh menerapkan protokol kesehatan.

Menurut Cahyani dan Maryono (2019: 11), fragmen Tari Sugriwa Subali tak hanya sekadar tontonan dan hiburan. Tetapi, merupakan simbol dan lambang memperoleh kebahagiaan. Simbolisasi perjuangan dari fragmen tari tersebut dimanifestasikan dalam wujud tokoh Sugriwa Subali dalam mempertahankan hak dan kebenarannya masing-masing untuk mendapatkan Dewi Tara sebagai lambang kebahagiaan.[1]

Harapan penulis, semoga Tari Sugriwa Subali terus menjadi salah satu primadona wisata khususnya di Desa Wisata Jatimulyo Kulonpogo.

(Penulis adalah Juara II Kategori Desa Wisata Jatimulyo Kabupaten Kulonprogo)

 

[1] Cahyani dan Maryono (2019). Fragmen Tari Sugriwa Subali Karya Didik Bambang Wahyudi (Tinjauan Estetik). Volume 19 No. 1 Juli 2020, 11-14.

BERITA REKOMENDASI