Mbah Wahadi, Penjual Burger ‘Kampung’ di Yogya yang Tersisa

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tangannya masih tampak cekatan mengiris tipis timun dan tomat pelengkap burger kampung dagangannya meski lampu tak begitu terang di gerobak sepeda sederhana tunggangan. Tak berhenti di situ, tangan yang sudah tampak keriput di beberapa bagian langsung menyalakan kompor dan membolak balik roti yang sebelumnya telah dilapisi dengan mentega.

Inilah keseharian Mbah Wahadi (75) warga kawasan Makam Raja Mataram Imogiri Bantul yang juga mungkin satu-satunya penjual burger kampung yang tersisa di Yogyakarta. Senin malam, waktunya Wahadi mengayuh sepeda gerobaknya ke arah utara menuju Jalan Kaliurang kilometer 12 untuk mengambil roti burger di tempat langganannya sejak 2004.

Kali ini kaki rentanya yang bekerja mengayuh sepeda, menyiratkan perjuangan kaum kelas bawah yang tampaknya harus dilakukan hingga masa tua. Tak banyak roti yang diambil, hanya akan cukup untuk berjualan selama dua hari yakni Selasa dan Rabu.

Burger sederhana yang dijual dengan harga Rp 7 ribu menjadi pusat penghidupan selama 13 tahun terakhir setelah usaha penganan kecil anak sekolah tak lagi dirasa mampu mencukupi kebutuhan. "Kulo pun dodolan burger niki ket taun 2004, nggih ider ngeteniki (saya sudah jualan burger dari tahun 2004, ya keliling seperti ini)," ungkapnya pada KRjogja.com Rabu (20/6/2017) malam.

Selepas mengambil roti pesanan, Mbah Wahadi biasa menjajakkan burger kampungnya di sepanjang Jalan Kaliurang. Kadang ia berhenti di dekat sebuah SD dan kadang memilih di lokasi dekat kantor salah satu bank di kawasan UGM.

Tak sedikit netizen dan masyarakat yang peduli pada Mbah Wahadi kemudian mencoba memviralkan dagangan kakek ini ke sosial media. Beberapa bahkan terus intens berkomunikasi dengan Simbah dan menawarkan beberapa bantuan secara iklas.

Kepada KRjogja.com, Mbah Wahadi juga mengisahkan bahwa saat ini tinggal sedikit saja orang yang tersisa menjual burger keliling salah satunya dia. "Nyambut damel nopo nggih pun angel, sampun nyade burger mawon. Rencang-rencang nggih sampun sami ucul, wonten sik ten Jakarta sik enom, sik dados tukang terapi lintah nggih wonten (kerja apa juga sudah susah, yasudah jualan burger saja terus. Teman-teman juga sudah tak jual burger lagi ada yang ke Jakarta yang masih muda, yang jadi terapi lintah juga ada)," imbuhnya sembari bertanya burger pesanan akan dibuat pedas atau tidak.

Kini meski usia sudah cukup renta 75 tahun, Mbah Wahadi bertekad terus mengayuh sepedanya dan menawarkan burger kampung yang ternyata cukup dikangeni masyarakat karena sempat booming di awal 2000-an. "Disyukuri mawon, dodol burger nggih akeh kancane, dipenakke mawon (disyukuri saja, jualan burger juga banyak teman yang didapat, dibuat enak saja)," ungkapnya lagi.

Setiap Selasa, Rabu dan Sabtu Mbah Wahadi berjualan di sepanjang Jalan Kaliurang dari siang hingga malam hari. Nah, kalau bertemu jangan lupa mencicipi rasa burger sederhana dari orang yang juga bersahaja di usia tua. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI