Mengenal Garongan, Perampok yang Menjelma Menjadi Sekuntum Kembang

Editor: Agus Sigit

Oleh Budi Legowo

SIAPA bilang Jaka Garong menyeramkan? Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Garongan Wonokerto, Turi, Sleman, Agus menceritakan sebutan ini.

Letusan Gunung Merapi tahun 1872 membuat topografi lereng gunung berubah. Material letusan mengubah hutan lebat di kawasan tersebut dan jurang menjadi lebih landai dan memungkinkan untuk dilewati orang. Kondisi itu mempermudah lalu lalang orang antar daerah di sekitar Gunung Merapi saat itu. Tak terkecuali, kawanan pencuri, perampok dan begal yang di masa itu lebih dikenal dengan sebutan garong. Para garong berangkat dari pesisir pantai utara. Berjalan dan pindah ke daerah selatan lereng Gunung Merapi

Sampailah kawanan garong di suatu desa dan singgah di wilayah tersebut. Karena tahu bagian selatan  daerah itu terdapat sebuah kerajaan yang dijaga  prajurit, mereka tak melanjutkan perjalanan ke sana. Selain khawatir sepak terjang mereka kepergok, mereka juga merasa betah tinggal di desa itu. Lebih-lebih tanahnya subur dan mata air yang melimpah.

Beberapa tahun kemudian, kabar keberadaan para garong tersebut sampai ke kerajaan. Menjaga ketenteraman rakyat adalah tugas dan kewajiban kerajaan.  Tak lama setelah mendengar kabar itu, kerajaan mengutus seorang Syekh-ahli agama Islam untuk berdakwah di desa tersebut. Selain mengingatkan penduduk desa, ada misi tersembunyi yang diemban Syekh utusan kerajaan itu, yakni menasehati dan menyadarkan para garong itu.

Keuletan dan kesabaran Syeikh lambat laun membuat sebagian garong tersadar. Secara bertahap mereka mengikuti tata cara kehidupan penduduk desa, yakni bertani dan beternak. Sementara garong yang kukuh dengan kebiasaan  menggarong, merasa diabaikan lingkungan terdekatnya dan dikucilkan  penduduk setempat. Terkucil dari lingkungannya membuat mereka menyingkir dari desa yang kini dikenal dengan nama Desa Garongan. Konon, mereka pergi terpencar, ada yang ke utara arah Magelang, ada pula yang ke timur arah Klaten.

Itulah sekelumit cerita tentang asal mula nama desa Garongan. Adapun angka tahun dan nama kerajaan dalam cerita itu, menurut Agus, belum ditemukan data-data yang mendukung. Karena sejarah desa itu baru semacam cerita legenda yang turun temurun. Hal yang pasti, kini, situasi dan kondisi Garongan sudah berubah.  Sekarang, sudah tidak ada lagi kawanan garong dan suasana sudah aman dan tenteram.

Adapun ‘Jaka Garong’ yang tertulis di papan penunjuk arah menuju desa  itu adalah singkatan dari: ‘Jelajah Alam Kampung Garongan’. Nama Jaka Garong, menurut Agus, dipakai untuk promosi desa wisata ini. ‘Jaka Garong’ unik, menarik dan bikin penasaran, lanjut Agus. Untuk menghilangkan kesan ‘ganas’ terkait penamaan desa tersebut, maka muncul ide untuk mengubah nama ‘Garongan’ menjadi ‘Kembang’. Meski diakuinya, hingga kini, nama Garongan lebih melekat dibandingkan Kembang.

Garongan berjarak 22 kilometer dari pusat kota Yogya dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 41 menit.  Sesampai di jalan Turi, ada papan nama ‘Jaka Garong’ yang memandu pengunjung menuju Desa Garongan Girikerto Turi Sleman. Desa yang dihuni 400 KK itu mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan sebagai penopang hidup sehari-hari masyarakat.

Buah salak pondoh menjadi andalan hasil perkebunan. Luas lahan perkebunan desa ini 42 hektar. Garongan termasuk penghasil salak pondoh yang daging buahnya lebih tipis dan rasanya kurang manis dibandingkan salak Bali. Meski rasa buah salaknya kalah manis, namun saat musim petik, salak pondoh desa Garongan sering diangkut ke Bali dengan menggunakan transportasi truk  untuk keperluan upacara keagamaan dan tradisi Bali.

Selain itu, sektor perikanan juga menjadi andalan  Garongan. Jenis ikan yang dibudidayakan penduduk diantaranya ikan Nila, Mujair, Gurame, Tambra, Tawes, Beskap, Koi, Lele dan lainnya. Lahan perikanan seluas sekitar 20 hektar mendukung  Garongan sebagai sentra ikan air tawar di wilayah kecamatan Turi dan sekitarnya. Untuk kebutuhan jual beli, terdapat sebuah pasar di pojok jalan desa, dekat area kolam perikanan. Biasanya tiap hari Sabtu dan Minggu, pasar itu hampir selalu ramai pengunjung dari luar kota dan masyarakat lokal. Adapun untuk harga rata-rata ikan, misalnya ikan Nila  Rp. 30.000 per kilo.

Topografi desa Garongan terdiri lahan tegal, persawahan dan sungai. Posisi desa yang terletak pada ketinggian antara 400 – 900 sedikitnya mempengaruhi hawa kawasan desa ini cenderung sejuk segar. Hal itu memperkuat alasan Pokdarwis Jaka Garong untuk menjadikan kesejukan alam sebagai andalan wisata. Sejumlah kegiatan dikemas menjadi paket wisata. Paket wisata yang sudah berjalan di antaranya kegiatan camping, treking sungai dan out bond.

Penggemar wisata alam tinggal memilih paket camping yang tersedia mulai dari Rp 20.000 per orang untuk berkemah 2 hari 1 malam hingga Rp 50.000 per orang untuk camping 3 hari 1 malam. Peserta camping di malam hari bisa membakar ikan. Sambil menikmati suasana malam, peserta camping tidak perlu takut ada pencuri atau garong karena Garongan desa kelahiran Jaka Garong kini sudah berubah menjadi ‘Kembang’.

(Penulis adalah Juara II Kategori Desa Wisata Garongan Wonokerto Turi Sleman)    

BERITA REKOMENDASI