Menjelajah si Cantik Saint Petersburg

PERJALANAN ke Saint Petersburg terasa nyaman dengan menggunakan kereta cepat yang dapat mencapai kecepatan 290 km/jam. Dari Moskow perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam saja, padahal kalau ditempuh dengan mobil akan memakan waktu jauh lebih lama. Hmmm…cepat, aman, nyaman, dan bersih,  itulah moda transportasi yang kita selalu harapkan juga di Indonesia.

Penampilan Duta Seni Boyolali di St Petersburg

Begitu menginjakkan kaki di St Petersburg, deretan bangunan berarsitektur khas menyerobok mata. Indah, bersih, dan nampak cukup gemerlap di malam itu. Ya, kota ini memang destinasi wisata yang ternama, tidak hanya di Rusia namun juga dinyatakan sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Saya tentu berharap bisa menjelajahinya esok hari.

Penulis bersama Duta Seni Boyolali di salah satu landmark St Petersburg

Paginya Duta seni Boyolali berkesempatan mengelilingi kota St Petersburg sebelum menuju area pentas. Kota yang dialiri sekitar 300 sungai dan kanal ini memang cantik karena berhasil mempertahankan bangunan-bangunan lama. Pemerintah setempat tidak memperbolehkan bangunan-bangunan terebut diganti dengan arsitektur modern, hanya diperbolehkan mempercantik saja. Menarik ya! Kita sering gagal mempertahankan bangunan cagar budaya karena tidak menghargai kesejarahan dan pelestariannya. Akhirnya identitas kota tak nampak lagi dan kecantikannya pun hilang.

Di St Petersburg Duta Seni Boyolali pentas di sebuah area rekreasi besar yang sedang dikunjungi banyak wisatawan. Dan seperti juga yang terjadi di Moskow, penonton menghambur ikut menari saat para penari turun dari panggung dan menari di tengah-tengah mereka. Sungguh pemandangan yang bikin bangga.

Seusai pentas, kami menuju stasiun kereta api untuk kembali ke Moskow. Namun asiknya adalah, kami mampir di Hermitage dan Winter Casltle yang begitu cantik di tengah kota untuk berfoto terlebih dahulu. Meski hanya sekejap dan tidak sempat masuk ke dalamnya, tapi kami merasa beruntung sekali bisa singgah dalam cuaca yang sangat cerah. Maria, tour guide kami, mengatakan bahwa kami sangat beruntung karena St Petersburg hanya memiliki 35 hari dalam setahun saat matahari bersinar cerah sepanjang hari seperti saat itu.

Penulis di salah satu sudut kota Saint Petersburg

Kembali ke Moskow, dengan kereta-cepat, terasa seperti kesempatan bagi kami untuk merebahkan badan dari segala kepenatan. Meski begitu mata tak bisa terpejam karena pemandangan di luar sayang untuk dilewatkan, apalagi di musim panas ini matahari baru tenggelam di sekitar jam 20.30. Hampir tengah malam kami sampai kembali di Moscow, dengan segala persiapan untuk meninggalkan Rusia esok hari, untuk menuju ke Dubai, Uni Emirat Arab.

Esoknya, setelah dibawa ke pusat souvenir di Arbacht Street, kami menuju bandara. Seru mendengar para pelajar ini berusaha membaca berbagai istilah dalam bahasa Rusia di sepanjang jalan sambil menertawakan diri mereka sendiri karena kesulitan membaca huruf-huruh itu. Ah….pengalaman indah dan membahagiakan. Selamat tinggal Rusia. (Ninda Nindiani)

 

BERITA REKOMENDASI