Menjingga Bersama Senja di Bumi Adikarta

Editor: Agus Sigit

Oleh : Nody Prastyo

LANGKAH kecil membawaku ke salah satu daerah di Yogyakarta. Tak banyak yang tahu keindahan alam yang dimiliki. Daerah yang sarat berbagai potensi itu, layak dikagumi. Harmoni budaya, alam  dan kehidupan masyarakat lokalnya seakan bersemi di atas tanah yang subur dibalut keberagaman.

Kulonprogo, merupakan salah satu kabupaten yang berada di ujung  barat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbatasan langsung dengan Provinsi Jateng di sebelah barat dan utara, pesisir pantai di sisi selatan dan Bantul di sisi timur.

Perjalananku dimulai ketika secara tak sengaja melihat penampilan musisi Kulonprogo membawakan lagu ‘Persembahan Semesta’ dalam acara Lomba Karya Musik Anak Komunitas yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ‘Nusantara Kaya Alamnya, Benih Cinta dari Sang Pencipta’, mendengarnya seakan terbawa ke sebuah tempat dimana penulis akan mendapatkan kedamaian.

Setelah mencari tahu, akhirnya penulis menemukan Kulonprogo dan jatuh cinta pada keindahan alam dan budayanya. Dari Jakarta penulis terbang langsung ke kabupaten ini.

Sesampainya di Kulonprogo, mata ini tertakjub seakan tak ingin berkedip ketika  melihat birunya samudera hindia dari atas pesawat udara, sungguh indah dan menawan. Melanjutkan langkah kaki mengelilingi salah satu bandara terbesar di Indonesia ini . Menyusuri setiap sudut yang dipenuhi sentuhan seni nan indah dan menenteramkan.

Perhatian akhirnya tertuju ke salah satu artwork di lantai bandara. Artwork Panca Desa, merupakan ukiran yang ada di dinding bandara Yogyakarta International Airport. Menceritakan tentang kehidupan masyarakat di sekitar bandara. Salah satu artwork yang membuatku terpesona adalah Artwork Panca Desa Glagah. Terlihat,  adanya interaksi masyarakat lokal yang begitu harmonis dengan berbagai latar belakang pekerjaan namun tetap membangun sebuah kebhinekaan.

Tak puas hanya melihat dan membayangkan Glagah, akhirnya penulis memutuskan untuk pergi ke desa tersebut dan mencari penginapan di salah satu homestay. Setibanya di homestay  disambut sang pemilik, Ibu Sumini. Ia terlihat sangat ramah dan hangat. Bu Sumini memberikan sajian makanan khas Kulonprogo berupa Geblek dan segelas Kopi Suroloyo.

Ia bercerita, Geblek merupakan makanan khas yang sekarang sudah sangat susah untuk didapatkan. Terbuat dari bahan dasar singkong yang diparut kemudian digoreng memberikan tekstur yang kenyal seperti Cireng. Cocok dipadukan dengan lauk Tempe Besengek.

Setelah selesai menyantap Geblek, Ibu Sumini mengajak untuk melihat pertunjukan seni di pendopo balai desa. Terlihat warga berdatangan, berkumpul menunggu pertunjukan dimulai. Sebentar kemudian, rombongan penari keluar dengan baju berwarna dasar hitam dihiasi aksesoris berwarna merah dan kuning menggambarkan prajurit wanita. Iringan musik tradisional dan gerakan yang enerjik membuat terpana yang melihat.

“Lurik-lurik ulane sawa, iseh cilik do ngabektio” merupakan penggalan lirik dari iringan tarian itu yang berarti sebagai generasi muda marilah  berbakti kepada orang tua, sesama, dan bangsa. Tarian yang baru saja disajikan itu diberi nama Angguk. Jenis kesenian tradisional ini menambah perbendaharaan penulis tentang  budaya di negeri ini.

Mentari mulai memunculkan sinarnya, burung-burung menyapa indahnya kebhinekaan di Desa Glagah. Penulis pergi ke Pantai Glagah untuk menikmati udara segar dan hangatnya matahari pagi. Pantainya masih sangat asri dan terdapat pemecah ombak yang sangat instagramable. Seusai menikmati keindahan Pantai Glagah kemudian bergegas kembali ke rumah karena Ibu Sumini untuk sarapan pagi. Kali ini aku makan Growol. Olahan singkong yang berbentuk putih dan padat, rasanya hambar namun cocok dimakan dengan sayur lompong.

Di hari  terakhir di Desa Glagah, menyempatkan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta sebagai kenangan, yakni Batik Geblek Renteng yang merupakan batik khas Kulonprogo. Tak terasa waktu sudah Pukul 15.00 dan  segera beranjak ke bandara meninggalkan Desa Glagah.

Semburat jingganya senja dan hangatnya mentari yang sudah mulai reda mengantarkan penulis untuk kembali dan meninggalkan indahnya Desa Glagah. Terima kasih atas pengalaman dan nilai kehidupan yang telah penulis dapatkan. Tulisan ini menjadi kenangan indah dalam setiap bait nafasku dan berharap  bisa kembali lagi ke bumi Adikarta ini bertemu orang-orang hebat dan menakjubkan.

 Tulisan adalah juara II lomba karya tulis desa wisata Badan Otorita Borobudur kategori desa wisata Glagah

BERITA REKOMENDASI