Pentingsari, Dari Daerah Miskin Menjadi Desa Wisata Andalan DIY

SLEMAN, KRJOGJA.com –  Desa Wisata Pentingsari (Dewiperi)  Dusun Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang di dulu dikenal sebagai salah satu dusun miskin di antara desa yang ada di lereng gunung Merapi dengan tingkat ekonomi dan pendapatan masyarakat yang relatif rendah. 

Namun pada awal tahun 2008 masyarakat kami mulai membangun mimpi dengan memberi nilai tambah pada kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat desa. Caranya denganmempertahankan tradisi, kearifan lokal dan budaya masyarakat. Tetapi juga harus mampu membuka diri dan membangun interaksi positif dengan masyarakat dari luar. 

"Dengan berbagai keterbatasan dan hanya bermodal semangat dan dukungan berbagai pihak, kami memberanikan membangun desa wisata Pentingsari dengan harapan ingin maju sejajar dengan desa-desa lainnya," kata pengelola Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro disela sela Cafe BCA On The Road to Yogya 22-23 September 2018. 

Dikatakan Doto, sejak awal membuka diri di sektor pariwisata,  warga membuka usaha homestay dimana  wisatawan yang menginap tinggal serumah dengan anggota keluarga. Selain itu, ditawarkan kegiatan wisata pengalaman berupa pembelajaran dan interaksi tentang ala, lingkungan, perkebunan, wirausaha, kehidupan sosial, aneka seni dan kearifan lokal lainnya.

"Melalui desa wisata kami mampu memberikan efek yang luar biasa bagi masyarakat, karena dengan desa wisata akan dapat mengakomodasi semua komponen dan bisa meningkat ekonomi masyarakat.” tegasnya.

Menurut Doto, dari 1255 kepala keluarga (KK) pada tahun 2008 omzetnya mencapai 30 juta per tahun. Namun setelah dilakukan pengembangan dan pelatihan, pada tahun berikutnya omzetnya meningkat menjadi Rp 250 juta. Namun sempat vakum karena ada erupsi merapi. 

Pada tahun 2011 hingga 2014 banyak perusahaan yang melakukan pembinaan dan pelatihan, maka omzet dari Pentingsari melonjak tajam hingga  Rp 1 miliar per tahun atau kurang lebih Rp 100 juta per bulan. Namun  pada  tahun 2015 lalu Bank Central Asia ( BCA) melakukan pendampingan, pembinaan, pelatihan pemasaran  bagi warga serta tata cara melayani dengan baik maka  omzetnya mulai dari tahun 2015 hingga 3017 omzetnya mencapai Rp 2,5  miliar per tahun atau sekitar Rp 200 juta per bulan.

"Kami pada 2014, kami mendapatkan dana bantuan pembinaan dan  pelatihan dan pemasaran dari BCA. Memang bukan uang yang diberikan tahap awal tetap ilmu.  Bahkan dengan ilmu yang diberikan makanya kami memperbaiki standar homestay, dari untuk wisatawan asing, domestik, dan untuk anak sekolah maka omzet kami meningkat cukup tajam yakni mencapai Rp 2,5 miliar per tahun," kata Doto seraya mengatakan saat ini homestay yang ada di Pentingsari mencapai 55 unit atau 150 kamar. 

Untuk tahun 2018 hingga Juni, keuntungannya sekitar Rp 1 miliar pertahun. 
Sedangkan tarif yang di tawarkan untuk paket yang memginap di homestay akan dikenakan biaya Rp 120  ribi per orang per malam dengan makan 3 kali. 
Sedangkan paket untuk kegiatan terimana anak sekolah dikenakan biaya Rp 20 ribu per kegiatan.

“Kalau paket 20 ribu per   kegiatan biasanya wisatawan anak sekolah, mereka akan diajarkan belajar tentang  kemandirian, toleransi dan sosial dan tanggung jawab. Rata rata rata mereka balik lagi karena mereka melihathasilnya kemandirian yang diperoleh anak anak setelah pulang dari Pentingsari,” tegasnya.

Doto juga menambahkan, saat ini jumlah homestay yang ada saat ini dinilai sudah cukup sehingga tidak perlu lagi menambah homestay. Pasalnya bila kebanyakan, ditakutkan pelayanannya kurang maksimal. Namun yang diinginkan adalah pengelolaannya tetap berlanjut dan pelayanan bagi wisatawan  lebih ditingkatkan lagi. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI