Seni Menata Batu, Dibutuhkan Fokus dan Konsentrasi

NATA batu atau menata batu. Sekilas tampak mudah. Tinggal menyusun satu persatu batu agar tinggi. Mudah, jika ukuran batunya sama semua.

Seperti segi empat, segi tiga atau yang lain. Tapi kalau bebatuan yang ada di sungai?

Dibutuhkan konsentrasi serta kesabaran yang tinggi. Mengingat ukuran batunya tidak ada yang sama. Bahkan ada yang di semua sisi tidak sama, sehingga ketika dicoba untuk disusun nglinding terus.

Imbasnya, batu yang sudah tersusun di bawahnya bisa ambruk. Padahal sebelumnya sudah tersusun cukup tinggi.

Teriakan hingga ungkapan nada kecewa terdengar ketika batu yang sudah tersusun tinggi tiba-tiba jatuh. Entah karena proses penyusunan batu diatasnya yang kurang pas atau tersenggol tangan kita sendiri.

Suasana itu terlihat di alur Sungai Opak. Tepatnya di Dusun Dalem Desa Tamanmartani Kecamatan Kalasan Sleman, Minggu (16/9/2018). Puluhan masyarakat memadati lokasi yang sebelumnya sebagai arel penambangan pasir manual tersebut.

Baca Juga :

Rock Balancing, Bukan Mistis Tapi Seni

Mereka ingin melihat seni menumpuk batu atau rock balancing. Ada juga yang mencoba langsung menumpuk batu. Anak-anak terlihat gembira ketika berhasil menyusun lima tumbukan batu. Tapi setelah itu, mereka bongkar lagi.

Salah satu yang mencoba menyusun batu adalah Siti (35). Warga Desa Tamanmartani tersebut mengungkapkan, jika ternyata menyusun batu itu tidak mudah. Cobaan dia yang ketiga baru berhasil.

“Ini hanya bisa lima tumbuk. Mau coba menambah batu, malah goyang-goyang. Ternyata tidak mudah. Untuk mencari batu yang tepat atau setidaknya lebih ringan dari yang dibawah juga sulit. Tapi seru,” katanya yang datang bersama dua anaknya tersebut.

Suryadi dari komunitas rock balancing Yogyakarta mengatakan, kegiatan ini lebih dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat lokal. Dan juga memanfaatkan potensi yang sudah ada sebelumnya. Di alur Sungai Opak, banyak terdapat bebatuan. Sesuai namanya, menumpuk batu. Kegiaatan ini mengajak siapa saja yang ingin mencoba untuk bisa belajar fokus.

“Ini tidak sekedar menumpuk batu saja. Dibutuhkan kepekaan dan kesabaran. Karena tekstur setiap batu itu berbeda-beda. Dimana ketika proses menumpuk harus bisa saling mengunci,”jelasnya.

Oleh masyarakat padukuhan Desa Dalem, kegiatan ini akan dikembangkan menjadi wisata desa. Diberi nama Wisata Desa Opak 7 Bulan ini menawarkan keindakan pemandangan alami. Jika beruntung dan cuaca sedang bagus, juga dapat melihat megahnya Gunung Merapi.

Selain rock balancing, disana juga disajikan karya instalasi rotan yang berada di pinggir-pinggir sungai dan tentunya instagramable.(Atiek Widyastuti H)

BERITA REKOMENDASI