Tinalah Berdaya Lewat Wisata

Editor: Agus Sigit

Oleh: Muhammad Luqman Taufiq

BISA membayangkan suasana pagi di pedesaan? Cuaca cerah berselimut udara sejuk yang menghampiri disetiap sudut kita berada, terpancar sinar emas pada sela-sela dedaunan dan pohon-pohon. Hiruk pikuk suara burung dan serangga yang saling sapa tanpa paham bahasanya turut menyapa kita. kesempurnaan relaksasi semakin hadir dengan secangkir kopi dan beberapa buah singkong/pisang goreng yang dinikmati.

Langit pedesaan yang semakin membiru menjadi tanda sudah waktunya bersih diri dengan dinginnya percik air yang mengalir dari sumber alami. Di saat itu pula beberapa orang mulai menyiapkan hidangan pagi dengan ciri khasnya. Menu sederhana tradisional dihidangkan sebagai pengalaman rasa ala desa disantap bersama-sama. Ada yang melanjutkan dengan bercengkerama, ada yang berjalanan menyapa masyarakat sekitar. Saling sapa dan melempar senyuman menjadi tanda kebahagiaan dalam kesederhanaan itu nyata adanya.

Rangsangan ketentraman juga disajikan pada suasana di area sawah dengan gubug bambunya atau pekarangan berkeliling pohon rindang, serta aransement suara yang harmonis dari aliran sungai yang menjadi stimulus positif dalam peningkatan imunitas. Suasana yang menjadi momentum yang tepat untuk mengolah rasa, mengolah jiwa, mengolah raga menuju keseimbangan yang selaras dan seirama penuh rasa syukur atas semua yang pernah didapatkan selama ini.

Begitulah suasana Tinalah, Kulonprogo yang saat ini dijadikan atraksi wisata oleh komunitas masyarakat lokal. Berbagai konsep aktivitas dikemas sebagai program untuk berkegiatan dan menikmati wisata pedesaan lainnya. Kemasan tersebut antara lain bergabung dengan akvitas warga sehari-hari semisal kegiatan di pekarangan atau persawahan, kegiatan berternak, kegiatan ekonomi dan atraksi kreatif, kegiatan sosial budaya lainnya. Pengalaman dan sensasi suasana yang berbeda dari kehidupan sehari-hari wisatawan menjadi magnet berdaya tarik besar untuk dicoba.

Melalui aktivitas wisata tersebut, harapan besar muncul di pedesaan untuk lebih berdaya dan berkemajuan secara kolektif. Kebersamaan pengelolaan memberikan peluang terbuka peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang terlibat didalam kegiatan. Keterlibatan tersebut dimulai dari awal kesepakatan hingga akhir pelaksaaan kegiatan seperti, tim pemasaran, tim operasional, penyedia jasa akomodasi, pendampingan, pelayanan, dan bagian lainnya yang saling berkaitan.

Community based tourism menjadi sebuah konsep yang tepat dalam pengembangan desa sebagai tujuan wisata. Keterlibatan banyak pihak yaitu pemerintah, akademisi, NGO, investor, dan masyarakat lokal memberikan peluang berkembang yang berkelanjutan. Sudah saatnya desa lebih berdaya dengan potensi yang ada, dengan kemasan yang berbeda, branding dan promosi untuk dikenal di mana-mana.

Wisata desa menjadi alternatif kunjungan yang potensial ditengah menjamurnya wisata buatan di kota besar. Wisata desa juga menjadi potensial lokasi melarikan diri bagi mereka yang penat dengan suasana hiruk pikuk keramaian, kepungan tembok bangunan yang menjulang tinggi, tekanan atasan dan gaya hidup perkotaan. Wisata desa juga menjadi tujuan healing melalui ketenangannya.

Tinalah menjadi contoh desa berdaya lewat wisata. Kemauan masyarakat lokal untuk berdaya, mengalahkan batas kemampuan secara logika. Berkolaborasi, bergerak bersama, mempengaruhi wisatawan dalam berbagai kelompok untuk berkegiatan dan berkunjung ke desa. Multi player effect terwujud dalam sirkulasi aktivitas pariwisata. Banyak orang terlibat, banyak orang merasa lebih hidup, banyak orang berani menaruh harapan tinggi, banyak orang berani mengembangkan diri melalui pengalaman.

Sudah saatnya desa berdaya atas potensinya, berkemajuan dengan kemampuanya, termasuk dengan konsep wisata. Meskipun itu semua bisa berjalan, berkembang, berkelanjutan atas dasar kemauan masyakarat lokal dalam mengelolanya,tetapi kita semua menjadi harapan mereka untuk hadir menyapa. Seperti yang disampaikan Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwita I Gede Ardika, Kepariwisataan haruslah diarahkan untuk benar-benar mewujudkan kapasitas, keadilan, pemberdayaan, dan keberlanjutan dalam membangun masyarakat.
Tinalah, wujud menjaga budaya, melestarikan alamnya, dan berdaya lewat wisata.

 

(Penulis adalah Juara 2 Lomba Karya Tulis Desa Wisata 2021 Kategori Desa Wisata Tinalah)

 

 

BERITA REKOMENDASI